**Takdir yang Menyatukan Kembali** Hujan turun di atas makam Pualam Putih. Bukan hujan deras yang mengamuk, melainkan rintik lembut yang membasahi nisan, seolah air mata langit ikut berduka. Di sanalah, *arwah* Lin berdiri. Bukan wujud kasat mata, hanya bayangan kelabu yang berdesir tertiup angin, seolah ia bagian dari kesunyian itu sendiri. Dunia hidup dan alam arwah berbatasan di sini. Lin bisa merasakan hangatnya mentari yang menyentuh rerumputan, tapi tak bisa merasakannya di kulitnya. Ia melihat bunga krisan putih yang diletakkan orang di makamnya, tapi tak bisa mencium aromanya. Semuanya begitu dekat, namun tak terjangkau. Dulu, Lin adalah seorang pelukis. Hidupnya dipenuhi warna dan harapan. Namun, sebuah pengkhianatan mengubah segalanya. Sebuah kebohongan yang tak sempat ia ungkapkan, sebuah rahasia yang ia bawa mati. Ia meninggal dengan hati yang belum selesai. Karena itulah, ia kembali. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai *roh* yang terikat. Bayangan Lin selalu mengikuti sosok pria bernama Jian. Jian adalah sahabatnya, rekan kerjanya, dan... kekasihnya. Atau, seharusnya begitu. Jian kini hidup dalam penyesalan, wajahnya dipenuhi kerut kesedihan yang mendalam. Lin melihat Jian setiap hari, mendengarkan setiap desah napasnya yang berat. Ia ingin berteriak, menjelaskan, mengatakan kebenaran. Tapi, *suaranya* lenyap bersama napas terakhirnya. Setiap malam, Lin mencoba berkomunikasi. Menggerakkan benda-benda kecil di sekitar Jian, menulis pesan di kaca berdebu, bahkan mencoba masuk ke dalam mimpinya. Namun, usahanya selalu sia-sia. Jian hanya merasa ada yang aneh, ada aura dingin yang menusuk di sekelilingnya. Ia mengira itu hanya perasaannya sendiri. Namun, Lin tidak menyerah. Ia terus berusaha, terus berjuang, berharap Jian akan mengerti. Ia tahu, kebenaran itu penting. Bukan untuk membalas dendam, bukan untuk menghukum. Melainkan untuk melepaskan beban yang mengikat hatinya, untuk memberikan *kedamaian* pada jiwanya. Suatu malam, saat Jian tertidur pulas di mejanya, Lin berhasil. Ia meneteskan air mata arwahnya ke atas lukisan yang belum selesai. Lukisan itu adalah potret Lin, dengan mata yang menyimpan sejuta luka. Ajaib! Air mata itu mengubah warna lukisan, menampakkan sebuah tulisan samar di baliknya. Jian terbangun. Ia terkejut melihat lukisannya berubah. Ia mendekat, memperhatikannya dengan seksama. Di sana, terukir kata-kata: "Aku tidak bersalah." Jian tertegun. Air matanya mulai menetes. Ia akhirnya mengerti. Kebenaran itu akhirnya terungkap. Beban di hatinya perlahan terangkat. Lin melihat senyum tipis di bibir Jian, senyum yang sudah lama hilang. Lin merasakan energinya menipis. Tugasnya selesai. Bebannya terangkat. Ia bisa pergi dengan tenang. Ia bisa kembali ke tempat asalnya, ke alam baka yang menantinya. Bayangan Lin perlahan memudar, menyatu dengan kegelapan malam. Hujan di atas makam Pualam Putih berhenti. Udara terasa lebih ringan, lebih damai. Ia tidak mencari balas dendam, ia mencari kedamaian. … *Dan mungkin, akhirnya, ia menemukannya.*
You Might Also Like: Rahasia Pelembab Lokal Untuk Kulit
0 Comments: