Baik, ini dia kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Aku Menari di Istana, Tapi Langkahku Dipenuhi Bayangan Kematian** Lentik jariku mena...

Drama Seru: Aku Menari Di Istana, Tapi Langkahku Dipenuhi Bayangan Kematian Drama Seru: Aku Menari Di Istana, Tapi Langkahku Dipenuhi Bayangan Kematian

Drama Seru: Aku Menari Di Istana, Tapi Langkahku Dipenuhi Bayangan Kematian

Drama Seru: Aku Menari Di Istana, Tapi Langkahku Dipenuhi Bayangan Kematian

Baik, ini dia kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Aku Menari di Istana, Tapi Langkahku Dipenuhi Bayangan Kematian** Lentik jariku menari di atas dawai *guqin*. Nada yang kurangkai malam ini, entah mengapa, terdengar begitu pilu. Bayangan bulan yang jatuh di lantai paviliun Istana Giok seolah memanggil kenangan yang terpendam di kedalaman jiwaku. Aku, Bai Lian, hanyalah seorang selir rendahan, seorang penari yang dipaksa melayani Kaisar yang dingin dan kejam. Namun, terkadang, dalam heningnya malam, aku merasa seperti bukan hanya Bai Lian. Ada kilasan-kilasan mimpi – *mimpi atau ingatan?* – tentang taman bunga plum yang bermekaran di musim dingin, tentang tawa renyah seorang wanita bernama…Yun Xi? Dan tentang pengkhianatan yang begitu pahit hingga membekukan darah. Aku mulai mengamati sekelilingku dengan lebih seksama. Permaisuri yang anggun namun menyimpan pandangan setajam belati. Selir-selir lain yang berlomba-lomba menjilat Kaisar, menyembunyikan cakar mereka di balik senyum manis. Dan yang paling membingungkan, Penasihat Agung Li Wei. Tatapannya padaku… terasa familiar. Terlalu familiar. Semakin aku mencoba mengingat, semakin kuat pula sakit kepala yang menyerang. Aku bermeditasi berjam-jam di paviliun, berusaha menenangkan jiwa yang bergejolak. Suatu malam, dalam keadaan setengah sadar, aku melihatnya. *Yun Xi* yang berlumuran darah, memanggil namaku dengan lirih. Di belakangnya berdiri sosok Li Wei, wajahnya diliputi amarah dan…cinta yang tertolak. *Dia! Li Wei!* Dialah yang merencanakan kejatuhanku di kehidupan sebelumnya. Dia yang menuduhku berkhianat, hingga Kaisar, yang dibutakan oleh hasutan Li Wei, menjatuhkan hukuman mati padaku. Aku, Yun Xi, mati di bawah pedang algojo, di hadapan taman bunga plum yang menjadi saksi bisu cintaku yang hancur. Kini, di kehidupan ini, Li Wei adalah tangan kanan Kaisar, penguasa *sejati* di balik tahta. Dia bahkan berani menatapku dengan pandangan mesra, seolah melupakan dosa-dosanya. **TIDAK!** Aku tidak akan membiarkannya lolos! Aku tidak akan membalas dendam dengan pedang dan darah. Aku akan membalasnya dengan cara yang lebih halus, lebih menyakitkan. Malam itu, aku menari di hadapan Kaisar, menari dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku menyanyi tentang cinta dan kesetiaan, tentang pengorbanan dan pengkhianatan. Lagu itu, tanpa kusadari, adalah kisah hidupku – kisah Yun Xi yang terbunuh. Kaisar terpesona. Li Wei, di sisi lain, pucat pasi. Dia tahu. Dia *tahu* aku mengingat semuanya. Aku perlahan mendekati Kaisar, berbisik di telinganya tentang rencana licik Li Wei untuk merebut kekuasaan. Aku menabur benih keraguan di hatinya. Aku membuatnya mempertanyakan kesetiaan Penasihat Agungnya. Dan aku berhasil. Li Wei jatuh dari kekuasaan. Bukan dengan kematian yang dramatis, melainkan dengan penghinaan dan kesepian. Dia dikucilkan dari istana, ditinggalkan oleh semua orang yang pernah menjilatnya. Dia akan hidup dengan beban dosa-dosanya, selamanya dihantui oleh bayangan Yun Xi – dan Bai Lian. Malam itu, aku berdiri di balkon Istana Giok, menatap bulan purnama. Aku tahu, balas dendamku telah selesai. Atau…hampir. "Aku akan menemuimu lagi, Li Wei, di *kehidupan selanjutnya*…"
You Might Also Like: Mimpi Masuk Rumah Ikan Nila Jangan

0 Comments: