**Takdir yang Tak Bisa Dihindari** Rembulan menggantung rendah di atas Danau Jing, memantulkan wajah Lin Yue yang pucat. Dulu, di tepian danau inilah, di bawah rembulan yang sama, ia dan Wei Chen saling berjanji. Janji sehidup semati, janji akan selalu saling melindungi. Janji yang kini terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Wei Chen berdiri di hadapannya, gagah dalam balutan jubah kebesaran jenderal. Namun, matanya—mata yang dulu selalu memancarkan cinta untuknya—kini dingin dan asing. "Lin Yue," suaranya berat, "kau tahu mengapa aku memanggilmu ke sini." Lin Yue menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang menggenang. Ia tahu. Ia selalu tahu. Sebagai putri selir yang diasingkan ke kuil terpencil, ia *bukanlah* pilihan yang tepat untuk Wei Chen, sang jenderal yang dipuja bangsa. Ia *bukanlah* wanita yang bisa berdiri di sisinya, mendampingi dalam kemuliaan dan kekuasaan. "Aku tahu," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kau akan menikahi Putri Mei." Wei Chen mengangguk, matanya sedikit melembut. "Ini demi kerajaan, Lin Yue. Demi perdamaian." *Perdamaian.* Kata itu terasa seperti hinaan. Perdamaian yang dibangun di atas puing-puing hatinya. Perdamaian yang menuntutnya untuk merelakan segalanya. "Lalu… janjimu?" Lin Yue memberanikan diri bertanya. Wei Chen terdiam. Angin malam berdesir, membawa serta aroma bunga plum yang pahit. Akhirnya, ia menjawab, "Janji adalah janji. Tapi kadang… takdir memiliki rencana lain." Kata-kata itu menghantam Lin Yue seperti badai. Takdir. Sungguh kata yang nyaman untuk menyalahkan segalanya. Takdir yang mengizinkan Wei Chen untuk melanggar janji, untuk meninggalkannya demi ambisi dan kekuasaan. "Aku mengerti," jawab Lin Yue, suaranya *bergetar*. Ia menatap wajah Wei Chen untuk terakhir kalinya, mencoba mengabadikan setiap lekuknya dalam ingatan. Wajah yang dulu begitu dicintainya, wajah yang kini membawa begitu banyak luka. Beberapa tahun kemudian, Lin Yue, yang kini dikenal sebagai Tabib Lin yang disegani, dipanggil ke istana untuk mengobati penyakit misterius yang menyerang Putri Mei. Penyakit yang perlahan tapi pasti, merenggut kecantikan dan kesehatan sang putri. Lin Yue tersenyum tipis, saat memberikan ramuan kepada Putri Mei. Ramuan yang *seharusnya* menyembuhkan. Ramuan yang diraciknya dengan teliti, dengan menggunakan setiap pengetahuan yang dimilikinya. Namun, di antara ramuan-ramuan penyembuh itu, ia menyelipkan satu ramuan yang *berbeda*. Ramuan yang tidak akan membunuh Putri Mei secara langsung. Ramuan yang hanya akan memastikan bahwa Putri Mei tidak akan pernah bisa memberikan Wei Chen seorang pewaris. **TAKDIRLAH** yang membawanya ke sini. Ketika Wei Chen, dengan mata penuh kecemasan, bertanya apakah Putri Mei akan baik-baik saja, Lin Yue hanya menunduk, menyembunyikan senyum pahitnya. "Tabib telah melakukan yang terbaik, Jenderal. Hanya waktu dan… takdir yang akan menjawabnya." Bayangan Wei Chen memanjang di lantai, di bawah rembulan yang kini bersinar penuh. Takdir, pikir Lin Yue, memang memiliki selera humor yang kejam. Cinta dan dendam, dua sisi mata uang yang sama, dan aku hanya memilih mana yang akan kubayar.
You Might Also Like: Wajib Tahu Tentang Sunscreen Mineral

0 Comments: