Baiklah, inilah kisah pendek dracin berjudul 'Bayangan yang Menyentuh Cahaya Terakhir': **Bayangan yang Menyentuh Cahaya Terakhir** ...

Seru Sih Ini! Bayangan Yang Menyentuh Cahaya Terakhir Seru Sih Ini! Bayangan Yang Menyentuh Cahaya Terakhir

Seru Sih Ini! Bayangan Yang Menyentuh Cahaya Terakhir

Seru Sih Ini! Bayangan Yang Menyentuh Cahaya Terakhir

Baiklah, inilah kisah pendek dracin berjudul 'Bayangan yang Menyentuh Cahaya Terakhir': **Bayangan yang Menyentuh Cahaya Terakhir** Lorong Istana Timur berbalut sunyi, hanya desah angin yang menyelinap di antara pilar-pilar megah. Kabut tipis dari pegunungan *Huangshan* merayap masuk, membawa aroma pinus dan rahasia kelam yang telah lama dipendam. Lima belas tahun lalu, di lorong inilah Pangeran Wei dinyatakan tewas dalam pemberontakan yang gagal. Kini, sosok yang mirip dengannya berdiri di ujung lorong, siluetnya menantang cahaya rembulan. "Kau...benar-benar Pangeran Wei?" Suara Permaisuri Lan terdengar bergetar, meski matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan. Jubahnya yang berwarna *emerald* seolah menyerap kegelapan di sekitarnya. Sosok itu tersenyum tipis. Senyum yang sangat mirip dengan senyum Pangeran Wei, namun menyimpan **KEDINGINAN** yang tak pernah ada sebelumnya. "Permaisuri Lan, ibunda tercinta. Sungguh mengharukan melihat Anda masih mengingat wajah putra Anda yang telah lama hilang." "Hilang? Kau *dikhianati*! Dituduh berkhianat dan dibuang seperti sampah! Katakan, di mana kau selama ini? Siapa yang membantumu?" Pangeran Wei palsu, mari sebut dia begitu, melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman gong yang menggema dalam keheningan. "Dibantu? Oh, Ibunda, aku *selalu* memiliki bantuan. Bantuan dari... _orang yang paling dekat denganku._" Permaisuri Lan terdiam. Kabut semakin pekat, menyelimuti lorong seolah enggan melepaskan rahasia yang akan terungkap. "Jangan bertele-tele! Katakan siapa!" Pangeran Wei palsu berhenti tepat di depan Permaisuri Lan. Matanya, sedalam jurang tak berdasar, menatap lurus ke dalam mata sang permaisuri. "Kau ingin tahu? Baiklah. Aku dibantu oleh orang yang paling menginginkan takhta ini. Orang yang paling pintar menyembunyikan ambisinya di balik senyum manis. Orang yang paling... *mencintaimu*, Ibunda." Senyumnya melebar, kini bukan lagi senyum seorang pangeran, melainkan seringai seorang *iblis*. "Kau..." Permaisuri Lan mundur selangkah. Tangannya gemetar, menyentuh liontin giok berbentuk naga yang selalu dikenakannya. "Kau tahu... sejak awal?" "Tentu saja. Pemberontakan itu... hanyalah *sandiwara*. Sandiwara yang diatur dengan sangat cermat olehmu, bukan? Agar Yang Mulia Kaisar mencurigai Pangeran Wei dan menyingkirkannya. Kau ingin aku naik takhta, kan? Kau ingin kekuasaan itu, bukan? **KAU!**" Suara Pangeran Wei palsu meninggi, membelah keheningan lorong. Permaisuri Lan terdiam, tak mampu menyangkal. Di matanya terpancar ketakutan yang belum pernah dilihat siapapun. "Kau pikir aku bodoh, Ibunda? Kau pikir aku tidak tahu bahwa surat-surat rahasia yang 'ditemukan' di kamarku adalah palsu? Kau salah. Aku tahu segalanya. Dan kini, aku di sini untuk menagih *hutangmu*." Pangeran Wei palsu meraih liontin giok dari tangan Permaisuri Lan. "Indah, bukan? Liontin ini... adalah kunci. Kunci untuk membuka lemari besi rahasia tempat kau menyimpan *segalanya*." Permaisuri Lan menatapnya dengan putus asa. "Jangan! Jangan lakukan ini! Aku... aku ibumu!" Pangeran Wei palsu tertawa. Tawa yang menggema, tawa yang tanpa ampun. "Ibu? Kau tidak pernah menjadi ibuku. Kau hanyalah alat. Dan kini, alat itu sudah tidak berguna lagi." Ia membalikkan badan, berjalan menjauh, meninggalkan Permaisuri Lan yang terhuyung di tengah kabut. Suaranya menghilang di telan lorong, namun kata-katanya bergema, menusuk jantung Permaisuri Lan. "Cahaya Terakhir memang menyilaukan, Ibunda. Tapi *Bayangan* selalu lebih kuat." Dan di saat itulah, Permaisuri Lan tahu. Dia bukanlah korban. Dia adalah dalang. Tapi dalang itu kini telah dikalahkan oleh ciptaannya sendiri. Dan penyesalan, seperti racun mematikan, menggerogoti jiwanya. *Kebenaran terungkap, dan topeng terakhir pun jatuh, memperlihatkan wajah sejati sang dalang yang kini tak berdaya, terjebak dalam jaring-jaring kebohongannya sendiri...selamanya.*
You Might Also Like: 46 Physical Development Poster Top

0 Comments: