## Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu Asap dupa cendana menari-nari di sekelilingku, mem...

Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu

Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu

Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu

## Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu Asap dupa cendana menari-nari di sekelilingku, membawa aroma kenangan yang *menyayat*. Di kehidupanku ini, aku hanyalah Lian, seorang gadis penjual teh di kedai pinggir jalan. Namun, di balik mata ini, bersemayam **Ling**, seorang putri dari Kerajaan Giok yang hancur lebur karena pengkhianatan. Dunia ini terasa asing sekaligus familiar. Jalan-jalan sempit ini, aroma masakan rempah, suara denting lonceng kuil, semuanya seperti gema dari masa lalu yang jauh. Aku berusaha menyingkirkan bayangan itu, menikmati hidup sederhana ini. Namun, mimpi-mimpi itu datang… tanpa diundang. Potongan-potongan adegan peperangan, wajah-wajah yang terukir amarah, dan yang paling sering: senyum *palsu* seorang pria. Pria itu… Jenderal Xuan. Dulu, dia adalah tangan kananku, *kekasihku*. Sekarang, dia adalah seorang menteri terhormat di Kerajaan Naga, kerajaan yang telah merebut negeriku. Aku melihatnya pertama kali di pasar. Jantungku berdebar kencang, bukan karena cinta, tapi karena amarah yang membara, amarah yang sudah lama kupendam. Matanya tak mengenaliku. Aku hanyalah seorang gadis penjual teh yang lewat. Ironi yang *pedih*. Setiap hari, aku menyeduhkan tehnya. Setiap hari, aku menatap matanya, mencari jejak penyesalan. Setiap hari, aku menahan diri untuk tidak meneriakkan kebenaran. Aku belajar mengendalikan diri, mengubah amarah menjadi strategi. Suatu hari, sebuah surat tiba di kedai teh. Surat itu ditujukan kepadaku, tanpa nama pengirim. Isinya hanya satu kalimat: *“Ingatkah kau, Ling? Ingatkah pengkhianatan itu?”* Air mataku menetes membasahi kertas itu. Semua ingatan itu kembali menghantamku: Xuan berlutut di hadapanku, bersumpah setia, lalu *tikaman* di punggungku saat perjanjian damai ditandatangani. Perjanjian yang sebenarnya adalah jebakan. Aku membakar surat itu, membiarkan abu-abu itu menari bersama asap dupa. Keputusan telah kubuat. Aku tidak akan menuntut balas secara langsung. Aku tidak akan menodai tanganku dengan darah. Aku akan mengubah takdir Kerajaan Naga. Aku menggunakan pengetahuanku tentang ramuan herbal, yang kupelajari sebagai seorang putri. Aku menyempurnakan resep teh, menambahkan sedikit ramuan yang akan membuat para petinggi kerajaan *lebih mudah dipengaruhi*. Aku menyebarkan desas-desus tentang keserakahan dan korupsi. Aku menanam benih ketidakpuasan di hati rakyat. Xuan, yang tidak mengenaliku, tetap meminum tehku setiap hari. Dia mulai membuat keputusan yang *tidak masuk akal*, yang melemahkan kerajaan dari dalam. Dia pikir dia menang. Dia pikir dia telah melupakan masa lalu. Suatu sore, Xuan datang ke kedai teh dengan wajah pucat. Dia menatapku dengan *tatapan kosong*. "Siapa kau?" tanyanya lirih. Aku tersenyum, senyum yang dingin dan tanpa ampun. "Aku adalah ingatan yang kau kubur dalam-dalam, Jenderal Xuan. Aku adalah konsekuensi dari pengkhianatanmu." Lalu, aku menyeduhkan secangkir teh terakhir untuknya. Teh yang akan membantunya melupakan segalanya… selamanya. Aku tidak membunuhnya. Aku hanya menghilangkan ingatannya tentang masa lalu, tentang pengkhianatan, tentang diriku. Dia akan hidup, tetapi dia bukan lagi Xuan yang dulu. Dia hanyalah bayangan dari dirinya sendiri. Kerajaan Naga akhirnya runtuh, bukan karena perang, tapi karena ketidakstabilan dan korupsi. Aku tidak ikut merayakannya. Aku hanya berjalan menjauh, meninggalkan abu-abu masa lalu. Kini, aku kembali menjadi Lian, seorang gadis penjual teh. Aku tidak lagi membawa beban masa lalu. Aku telah membalas dendamku. Namun, di suatu tempat, di kedalaman jiwaku, aku tahu… *Aku akan menunggumu, Xuan. Di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi.*
You Might Also Like: When Is Shortest Day Of Year Winter

0 Comments: