## Rahasia yang Membunuh Raja Hujan kota membasahi kaca jendela apartemen Ji-Hae. Setiap tetesnya terasa seperti kenangan yang jatuh, satu per satu menghantam hatinya yang retak. Aroma kopi pahit gagal mengusir dingin yang merayap di tulang-tulangnya. Ia menatap layar ponsel, terpaku pada sisa chat yang tak terkirim – barisan kata yang seharusnya menjadi jembatan, namun kini hanya jurang tak terisi. Dulu, notifikasi dari *dia* adalah melodi paling indah. Suara denting kecil yang membangkitkan kupu-kupu di perutnya. Ia memanggilnya Raja, bukan karena kekuasaan, melainkan karena *aura* yang tak terbantahkan. Seo-Joon, si Raja dengan senyum memikat dan tatapan yang menyimpan sejuta rahasia. Pertemuan mereka dimulai dari kesalahan nomor, lalu obrolan tengah malam tentang mimpi dan ketakutan, hingga akhirnya menjadi cinta yang tumbuh di antara *piksel* dan janji. Namun, semua itu hancur seperti *kepingan kaca*. Kehilangan Seo-Joon terasa begitu samar. Ia tidak menghilang sepenuhnya, hanya menjadi hantu yang menghantui mimpi Ji-Hae. *Dia* masih online, tapi bukan untuk Ji-Hae. Pesan terakhir mereka hanyalah "Maaf," tanpa penjelasan, tanpa kesempatan untuk bertanya. "Seo-Joon, ada apa?" bisik Ji-Hae pada bayangannya di jendela. Misteri hubungan mereka yang belum selesai mulai menggerogoti akal sehatnya. Kenapa tiba-tiba menjauh? Kenapa *dia* membiarkan Ji-Hae terombang-ambing dalam ketidakpastian? Ji-Hae mulai menggali. Setiap jejak digital, setiap percakapan, setiap foto, diperiksanya berulang kali. Ia menemukan petunjuk kecil yang mengarah pada kebenaran yang pahit. Seo-Joon memiliki rahasia. *Sebuah rahasia yang MEMBUNUHNYA secara perlahan.* Ternyata, *Sang Raja* terperangkap dalam jaringan bisnis kotor keluarganya. Ia ingin keluar, tapi tak bisa. Cinta mereka adalah bom waktu, ancaman bagi keseimbangan dunia yang dibangun di atas kebohongan. Meninggalkan Ji-Hae adalah satu-satunya cara untuk melindunginya. Kenyataan ini menghantam Ji-Hae seperti badai. Ia merasakan sakit yang begitu dalam, hingga tak mampu lagi meneteskan air mata. Kebencian bercampur dengan cinta, membentuk koktail pahit di hatinya. Ia mengerti alasan Seo-Joon, tapi itu tidak mengurangi rasa sakitnya. ***BALAS DENDAM*** tidak selalu berupa teriakan atau tindakan keras. Kadang, ia datang dalam bentuk ketenangan yang mematikan. Ji-Hae menulis pesan terakhir. Bukan caci maki, bukan pertanyaan, hanya satu kalimat sederhana. "Aku mengerti." Ia mengirimkannya, lalu memblokir nomor Seo-Joon. Di hari yang sama, Ji-Hae menjual semua kenangan tentang Seo-Joon: foto, hadiah, bahkan tiket konser yang belum sempat mereka datangi. Ia menghapus jejak digitalnya dari hidupnya. Ia merapikan apartemennya, mengganti aroma kopi dengan wangi lavender yang menenangkan. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri melihat kota dari balkon. Hujan sudah berhenti. Matahari mulai menyingsing, memancarkan cahaya keemasan. Ji-Hae tersenyum tipis, senyum terakhir untuk *Sang Raja*. Ia berbalik, menutup pintu apartemennya, dan melangkah pergi. ...tanpa pernah menoleh ke belakang.
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Untuk

0 Comments: