## Langit yang Menyaksikan Awal Baru Lorong Istana Timur bergaung sunyi, hanya desau angin malam yang merayapi ukiran naga di pilar-pilar merah. Cahaya rembulan pucat menembus kisi-kisi, membentuk bayangan aneh yang menari di atas lantai marmer. Di tengah lorong itu berdiri seorang pria. Wajahnya tertutup kerudung, hanya siluet tubuhnya yang tegap terlihat jelas. Sepuluh tahun berlalu sejak ia dinyatakan **MATI** di medan perang. "Kau kembali," suara seorang wanita memecah keheningan. Putri Lian, wajahnya sembab, berdiri di ujung lorong. Di tangannya tergenggam lentera yang cahayanya bergetar. Pria itu membuka kerudungnya. Wajahnya keras, garis-garisnya terpahat oleh derita dan dendam. "Aku kembali untuk menjawab pertanyaan yang tak pernah kau tanyakan, Lian." "Pertanyaan apa? Semua sudah jelas. Kau mengkhianati keluarga kerajaan, kau—" "Mengkhianati?" Pria itu, yang dulu bernama Jenderal Zhao Yun, tertawa pelan, suara yang lebih terdengar seperti desisan ular. "Apakah kau yakin dengan apa yang kau percayai?" Mereka berjalan beriringan menuju aula utama. Kabut pegunungan menyusup masuk melalui celah-celah jendela, membaur dengan aroma dupa dan kesedihan yang menguar dari setiap sudut istana. "Aku melihatmu jatuh, Yun. Aku melihat kudamu kembali tanpa penunggang," desah Putri Lian. Zhao Yun berhenti. Matanya menatap lurus ke mata Putri Lian. "Apa yang *kau* lihat hanyalah apa yang *kuinginkan* kau lihat." Tiba-tiba, sekelompok pengawal bersenjata lengkap muncul, mengepung Zhao Yun. Di belakang mereka, berdiri Kaisar, ayah Putri Lian. Wajahnya muram. "Yun," Kaisar menghela napas. "Aku tidak pernah ingin ini terjadi. Tapi kau tahu terlalu banyak." Zhao Yun tersenyum dingin. "Terlalu banyak? Atau cukup untuk mengungkap kebenaran tentang malam berdarah itu? Malam ketika *kau* sendiri memerintahkan pembantaian keluargaku? Malam ketika *kau* mengatur agar aku jatuh dalam jebakan?" Putri Lian terhuyung. "Ayah...?" Kaisar membisu. Kabut pegunungan semakin tebal, menutupi wajahnya yang penuh dosa. "Kau pikir aku korban, Lian? Kau pikir aku kembali untuk balas dendam?" Zhao Yun melangkah mendekat, suaranya berbisik bagai racun. "Aku bukan korban. Aku *DALANG* dari semua ini. Dan malam ini, drama ini akan mencapai puncaknya." Di saat itulah, puluhan anak panah melesat dari kegelapan, bukan ke arah Zhao Yun, melainkan ke arah para pengawal dan Kaisar! Istana dipenuhi jeritan dan bunyi pedang beradu. Zhao Yun, dengan tenang, berdiri di tengah kekacauan. Putri Lian menatapnya dengan ngeri. "Semua ini... kau...?" Zhao Yun menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca. "Dendam terbaik adalah yang dingin. Dan *kebohongan* yang paling sempurna adalah yang diucapkan dengan *air mata*..." Kabut menyelimuti istana. Langit menyaksikan awal baru, di mana keadilan diukir dengan darah dan kebohongan. Tapi kebenaran yang sesungguhnya... *adalah bahwa dia memang menginginkan dia kembali, untuk menghancurkannya*.
You Might Also Like: Rekomendasi Moisturizer Untuk Kulit

0 Comments: