Baiklah, ini dia: **Janji yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari** Langit Beijing, seperti biasanya, enggan membiarkan matahari menyapa. Kab...

Cerpen Keren: Janji Yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari Cerpen Keren: Janji Yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari

Cerpen Keren: Janji Yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari

Cerpen Keren: Janji Yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari

Baiklah, ini dia: **Janji yang Tak Pernah Ditulis Tapi Diingkari** Langit Beijing, seperti biasanya, enggan membiarkan matahari menyapa. Kabut menggantung, bukan romantis, tapi menyesakkan. Xiao Mei menggeser layar ponselnya. Pesan terakhir dari Lin, tiga bulan lalu: "Sedang mengetik..." Tiga bulan! *SEDANG MENGETIK!* Rasanya seperti menunggu Godot di era koneksi 5G yang ngadat. Xiao Mei, pewaris tunggal *chaebol* properti yang lebih memilih menjadi barista indie, mencintai Lin dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh algoritma pencarian jodoh yang error. Pertemuan pertama mereka terjadi saat pemadaman listrik massal. Di tengah kegelapan kota, Lin, seorang sejarawan misterius dengan aroma buku kuno dan senyum sinis, menawarkan Xiao Mei lilin. Lin hidup di museum virtual masa lalu. Dia bicara tentang dinasti yang hilang, artefak yang tak pernah ditemukan, dan janji yang terkubur dalam prasasti. Xiao Mei, sebaliknya, membangun kota masa depan dengan satu tangan dan meracik kopi *latte art* dengan tangan lainnya. Dua dunia yang tabrakan, menciptakan ledakan rasa penasaran dan kerinduan yang aneh. Chat mereka adalah jembatan dimensi. Lin mengirim gambar ukiran naga dari Dinasti Ming. Xiao Mei membalas dengan foto *drone* yang terbang di atas gedung pencakar langit. Mereka berjanji bertemu di *Huǒguō Hot Pot* favorit Xiao Mei, malam itu. Lin bilang, "Aku akan membawakanmu kisah yang belum pernah kamu dengar." Tapi Lin tak pernah datang. Xiao Mei menunggu sampai *Huǒguō* itu dingin, sampai pelayan mulai membersihkan meja, sampai notifikasi terakhir berbunyi: "Baterai lemah." Tiga bulan kemudian, Xiao Mei menemukan jurnal usang di loteng kakeknya. Jurnal itu penuh dengan sketsa arsitektur futuristik dan puisi tentang seorang wanita bernama...Xiao Mei. Di halaman terakhir, ada gambar naga yang sama persis dengan yang dikirim Lin, dan di bawahnya tertulis: "Janji pada bintang-bintang, di bawah kabut Beijing. Kita akan bertemu, walau di era yang berbeda." Jantung Xiao Mei berdebar. Ia berlari ke museum virtual, tempat terakhir Lin terlihat. Kurator museum menatapnya bingung. "Lin? Tidak ada sejarawan bernama Lin di sini." Namun, di sudut gelap museum, ia menemukan prasasti yang sangat familiar. Ukiran naga yang sama, namun kali ini, ada satu kalimat yang terukir di bawahnya: "Kisah cinta kita bukanlah milik kita, tapi gema dari kehidupan yang **TAK PERNAH SELESAI!**" Xiao Mei menoleh. Di balik bayangan, ia melihat sosok yang familiar. Bukan Lin yang ia kenal, tapi seorang pria tua renta dengan mata yang sayu. Pria itu tersenyum, senyum yang sama dengan Lin. "Kamu...siapa?" tanya Xiao Mei. Pria tua itu mengangkat tangannya yang gemetar. "Aku adalah janji yang kamu lupakan, cinta yang kamu tinggalkan, dan... ***PESAN TERAKHIR SEBELUM SEMUANYA PADAM***..."
You Might Also Like: Arti Mimpi Menangkap Serigala Jawa

0 Comments: