**Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang** Kabut ungu menggantung di atas Danau Kaca, serupa selendang yang menyembunyikan **...

Cerpen Keren: Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang Cerpen Keren: Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang

Cerpen Keren: Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang

Cerpen Keren: Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang

**Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang** Kabut ungu menggantung di atas Danau Kaca, serupa selendang yang menyembunyikan **_kebenaran_**. Di sanalah, di paviliun usang yang dililit tanaman *wisteria* beraroma sendu, aku pertama kali melihatnya. Bukan melihat, lebih tepatnya, *merasakan* kehadirannya. Seperti melodi seruling bambu yang samar, namun menusuk kalbu. Ia, Putri Yue, dengan mata sekelam malam tanpa bintang, dan senyum yang bisa meruntuhkan dinasti. Kami bertemu dalam mimpi yang sama, terjalin dalam lukisan tinta yang tak pernah selesai, dan terkurung dalam dimensi waktu yang melingkar seperti *ouroboros*. Setiap senja, aku menulis surat untuknya. Bukan dengan tinta dan pena, melainkan dengan getar jiwa dan desir rindu. Surat-surat yang kubawa melintasi jembatan pelangi, surat-surat yang beraroma bunga persik dan air mata. Di setiap aksara, kutitipkan sebongkah hatiku yang rapuh. Namun, Putri Yue tak pernah membalas. Ia hanya menatapku, dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. Apakah itu iba? Kasih sayang? Atau sekadar rasa ingin tahu seorang dewi yang bosan dengan keabadian? Suatu hari, di bawah rembulan separuh baya, ia mengambil suratku. Tanpa sepatah kata pun, ia menyulut api. Api yang melalap kertas-kertas berisi kerinduan dan harapan. Aku terpaku, menyaksikan *mimpi*ku berubah menjadi abu. Aku mengira, dengan hancurnya surat, hancurlah pula ilusiku tentang cinta ini. Namun, aku salah. **_Abu-Nya Tak Pernah Hilang_**. Ia menempel di jemariku, di helai jubahku, dan yang paling menyakitkan, di relung hatiku yang paling dalam. Bertahun-tahun berlalu. Danau Kaca mengering. Paviliun usang runtuh. Aku, sang pujangga malang, tetap mengembara mencari jejak Putri Yue. Aku berkeliling ke seluruh penjuru dunia, dari kuil-kuil kuno hingga pasar-pasar ramai. Aku bertanya pada angin, pada burung-burung, pada setiap wajah yang kulintasi. Hingga suatu malam, di sebuah desa terpencil yang diterangi lentera bambu, aku melihatnya. Bukan Putri Yue yang anggun dan penuh misteri, melainkan seorang wanita tua renta dengan keriput di wajahnya. Ia sedang menabur abu ke ladang gandum. Aku mendekat, dengan jantung berdebar kencang. Wanita itu menoleh, menatapku dengan mata yang redup. Aku melihat sisa-sisa api di matanya. Lalu, ia berbisik dengan suara serak, "Aku tahu kamu akan kembali. Karena abu ini adalah abu dari cintaku yang *terpaksa* kubakar, demi melindungimu dari kutukan abadi… Aku bukan Putri Yue, aku adalah *bayangannya*." *Semua ini… hanya ilusi belaka, bukan?*
You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare

0 Comments: