**Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana** Di antara kabut giok yang menyelubungi puncak Gunung Abadi, terlukis sebuah istana. Bukan ...

Drama Seru: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana Drama Seru: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

Drama Seru: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

Drama Seru: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

**Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana** Di antara kabut giok yang menyelubungi puncak Gunung Abadi, terlukis sebuah istana. Bukan istana dari batu dan emas, melainkan dari benang-benang mimpi yang dijalin oleh angin. Di sanalah, di singgasana yang dingin, duduk seorang raja. Bukan raja dengan mahkota permata, melainkan raja yang memanggul kesepian di bahunya. Matanya, *samudra* yang kehilangan bintangnya, menatap lukisan di dinding. Bukan lukisan pemandangan, melainkan potret seorang wanita. Bibirnya, *kelopak persik* yang baru merekah, tersenyum kepadanya dari balik kanvas. Wanita itu, *Bai Lian*, bukan sekadar lukisan. Dia adalah gema di hatinya, bayangan yang menari di pelupuk matanya, melodi yang terpendam di setiap denyut nadinya. Raja itu, Kaisar Long Wei, pernah bermimpi tentang Bai Lian. Di dalam mimpi, mereka menari di bawah *hujan bunga sakura* yang abadi. Tawa Bai Lian bagaikan lonceng perak yang memecah keheningan istana mimpi. Cinta mereka, seindah lukisan naga dan phoenix yang melayang di langit, abadi dan tak terpisahkan. Namun, mimpi adalah mimpi. Ketika fajar menyingsing, Bai Lian menghilang, meninggalkan Kaisar Long Wei dengan luka yang menganga. Ia mencari Bai Lian di setiap sudut istana, di setiap pelosok negeri. Namun, Bai Lian tetaplah bayangan, sentuhan angin yang berlalu. Bertahun-tahun berlalu. Istana mimpi menjadi saksi bisu kerinduan sang Kaisar. Lukisan Bai Lian menjadi satu-satunya teman setianya. Ia berbicara kepada lukisan itu, mencurahkan isi hatinya, berharap Bai Lian akan menjawab, walau hanya dalam bisikan. Suatu malam, di bawah rembulan *yang berdarah*, Kaisar Long Wei menemukan sebuah kotak tua di loteng istana. Di dalamnya, terdapat sebuah gulungan sutra yang lusuh. Ketika ia membukanya, ia tersentak. Di sana, terlukis dirinya sendiri, tengah memandang potret seorang wanita. Di bagian bawah lukisan, terdapat sebuah tulisan dalam aksara kuno yang hampir pudar. Dengan tangan gemetar, Kaisar Long Wei membacanya. *"Kaisar Long Wei, kau bukan mencari Bai Lian. Kau mencari kenanganmu sendiri. Bai Lian adalah dirimu di masa lalu, sebelum singgasana ini menelanmu hidup-hidup. Lukisan itu… adalah cermin."* *KERAS!* Kaisar Long Wei terhuyung. Potret Bai Lian di dinding terasa semakin jauh, semakin kabur. Bayangannya sendiri di cermin terasa begitu asing. Ia memahami semuanya. Bai Lian bukan wanita yang pernah hadir dalam hidupnya. Bai Lian adalah *bagian dari dirinya* yang telah hilang, terkubur di bawah beban kekuasaan dan kesepian. Pagi itu, Kaisar Long Wei ditemukan meninggal dunia di depan lukisan Bai Lian. Bibirnya tersenyum, matanya menatap langit-langit istana. Di tangannya, tergenggam erat gulungan sutra kuno. *Dan di telingaku, aku mendengar bisikan: "Cinta yang tak terbalas… adalah cinta yang paling abadi…"*
You Might Also Like: Discover Ultimate Deer Harvest Spotter

0 Comments: