Baiklah, ini dia kisah dracin berjudul 'Racun itu pahit, tapi lebih pahit menunggumu,' dengan sentuhan yang diminta: **Racun Itu P...

Cerpen Seru: Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu. Cerpen Seru: Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu.

Cerpen Seru: Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu.

Cerpen Seru: Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu.

Baiklah, ini dia kisah dracin berjudul 'Racun itu pahit, tapi lebih pahit menunggumu,' dengan sentuhan yang diminta: **Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu** Aula *KEEMASAN* istana berkilauan di bawah cahaya ratusan lilin. Setiap pilar marmer seolah mengawasi, saksi bisu bisikan pengkhianatan yang merayap di balik tirai sutra merah. Tatapan para pejabat kekaisaran *SETAJAM* belati, mengincar sedikit pun kelemahan, siap menerkam demi merebut kekuasaan. Inilah panggung sandiwara, dan Pangeran Kedua, Li Wei, tahu betul perannya. Li Wei, tampan dengan aura dingin yang memikat, duduk di singgasana samping Kaisar yang mulai senja. Matanya mengamati satu persatu wajah di depannya, mencari satu sosok yang membuatnya lupa akan semua intrik ini: Zhao Lan, *SELIR* kesayangan Kaisar. Zhao Lan. Kecantikannya bak bunga teratai di tengah lumpur. Tapi di balik senyum lembutnya tersimpan rahasia yang hanya dia dan Li Wei yang tahu: cinta terlarang yang terjalin di tengah *LABIRIN* istana. "Pangeran Kedua," suara berat Kaisar memecah keheningan. "Kau akan menikahi Putri Meihua dari kerajaan Yue." Dunia Li Wei runtuh seketika. Pernikahan politik ini adalah *SENJATA* lain dalam perebutan takhta. Jika dia menolak, nyawa Zhao Lan akan menjadi taruhannya. Malam itu, mereka bertemu diam-diam di taman terlarang. Zhao Lan menatap Li Wei dengan air mata berlinang. "Jangan khawatirkan aku, Wei. Aku akan baik-baik saja." "Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Aku *MENCINTAIMU*, Lan. Lebih dari hidupku sendiri!" Li Wei menggenggam tangannya erat. Zhao Lan melepaskan genggaman Li Wei perlahan. "Cinta kita adalah racun, Wei. Racun yang akan membunuh kita berdua. Kau harus menjadi Kaisar. Demi kerajaan, demi rakyat..." Suaranya bergetar. "Dan demi *KENANGAN* kita." Li Wei menikahi Putri Meihua. Pernikahan itu dingin, tanpa cinta. Setiap malam, dia merindukan Zhao Lan, merasakan racun kerinduan menggerogoti hatinya. Sementara itu, Zhao Lan, yang tampak pasrah dengan takdirnya, diam-diam membangun kekuatannya sendiri. Dia mengumpulkan informasi, membentuk aliansi, dan menyusun rencana yang *MENGEJUTKAN* semua orang. Dia tahu betul, satu-satunya cara untuk melindungi Li Wei adalah dengan menyingkirkan semua yang menghalanginya. Bertahun-tahun berlalu. Kaisar mangkat. Li Wei naik takhta, tetapi tahta itu rapuh. Musuh-musuhnya bertebaran di mana-mana. Tepat ketika semuanya tampak akan runtuh, Zhao Lan muncul. Bukan lagi selir yang lembut dan penurut, melainkan seorang *RATU* yang anggun dan berwibawa, memegang kendali penuh atas istana. Dengan *KEKEJAMAN* yang tersembunyi di balik senyum manisnya, Zhao Lan menyingkirkan para pengkhianat satu persatu. Putri Meihua, yang ternyata bersekongkol dengan musuh, menjadi korban pertama. Zhao Lan menggunakan racun yang sama yang pernah mengancam nyawanya, racun yang *PAHIT*, namun efektif. "Aku melakukan ini untukmu, Wei," bisiknya di malam yang sunyi, sambil menatap bulan. "Kau tidak akan pernah tahu seberapa banyak aku mengorbankan diri..." Di akhir pemerintahannya yang gemilang, Li Wei menemukan surat wasiat Zhao Lan. Di dalamnya terungkap semua pengorbanan dan rencana licik Zhao Lan. Rasa bersalah dan cinta yang mendalam menghantam Li Wei dengan kekuatan yang *MENGHANCURKAN*. Di sisa hidupnya, Li Wei memerintah dengan bijaksana dan adil, tetapi hatinya tetap terkunci di taman terlarang, bersama *KENANGAN* Zhao Lan. Dia tahu, cinta mereka adalah dosa, tetapi dosa itu telah menyelamatkan kerajaannya. Namun, satu pertanyaan masih *MENGGANTUNG* di udara: siapa sebenarnya yang meracuni siapa? *Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri...*
You Might Also Like: 132 Panduan Skincare Lokal Untuk

0 Comments: