**Tangisan yang Tak Lagi Manusiawi** **BAGIAN I: Bayang-Bayang di Balik Lentera Merah** Seratus tahun telah berlalu sejak *dosa* itu dito...

Cerpen: Tangisan Yang Tak Lagi Manusiawi Cerpen: Tangisan Yang Tak Lagi Manusiawi

Cerpen: Tangisan Yang Tak Lagi Manusiawi

Cerpen: Tangisan Yang Tak Lagi Manusiawi

**Tangisan yang Tak Lagi Manusiawi** **BAGIAN I: Bayang-Bayang di Balik Lentera Merah** Seratus tahun telah berlalu sejak *dosa* itu ditorehkan di tanah air, sejak janji itu terucap di bawah rembulan berdarah. Jiang Yue, gadis penjual teh di Kota Kuno Yuzhou, merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Sesuatu yang bergetar setiap kali ia melewati Jembatan Seribu Air Mata, sesuatu yang berdenyut saat ia mencium aroma *mei hua* di musim semi. Ia sering bermimpi. Mimpi tentang istana megah yang hancur, tentang pedang berlumuran darah, tentang tatapan mata seorang pria yang menyimpan lautan kesedihan. Ia tak mengerti. Mimpi itu datang seperti angin puyuh, meninggalkan rasa sakit yang membekas di hatinya. Suatu hari, seorang pria bernama Lin Wei datang ke Kota Yuzhou. Matanya, *ya ampun*, matanya adalah cermin dari mimpi-mimpinya. Ada kepedihan yang sama, ada kerinduan yang sama, ada… pengkhianatan yang sama. "Nona Jiang," sapa Lin Wei dengan suara yang membuat bulu kuduk Jiang Yue meremang. "Apakah kita… pernah bertemu sebelumnya?" Jiang Yue menggeleng pelan, namun hatinya berteriak. Ia merasa *tertarik* padanya, seperti besi pada magnet, seperti bunga pada matahari. **BAGIAN II: Bisikan dari Seratus Tahun Lalu** Lin Wei, seorang cendekiawan muda yang tengah mencari ketenangan, juga merasakan keanehan yang sama. Ia merasa seolah mengenali Jiang Yue, seolah pernah menghabiskan ribuan musim bersamanya. Ia menemukan buku tua di sebuah kuil terpencil, buku yang menceritakan kisah seorang kaisar yang dikhianati oleh kekasihnya, seorang permaisuri yang haus kekuasaan. Setiap malam, Lin Wei membaca buku itu. Setiap malam, mimpi-mimpinya menjadi semakin jelas, semakin mengerikan. Ia melihat dirinya, Kaisar Xuanzong, jatuh ke dalam jurang keputusasaan setelah mengetahui bahwa permaisurinya, Mei Lin, merencanakan pemberontakan untuk merebut takhta. Dan Mei Lin… wajahnya identik dengan Jiang Yue. Mereka mulai mencari petunjuk. Mereka mengunjungi reruntuhan istana kuno, menggali masa lalu yang terkubur di bawah lapisan waktu. Mereka menemukan lukisan Mei Lin yang disembunyikan di balik dinding rahasia, jepit rambut giok yang patah di taman istana, dan yang paling penting, sepucuk surat dari Kaisar Xuanzong untuk Mei Lin. *"Aku tahu dosamu, Mei Lin. Aku tahu pengkhianatanmu. Tapi aku tidak bisa membencimu. Aku hanya berharap… di kehidupan selanjutnya, kita bisa bertemu sebagai orang biasa, tanpa kekuasaan, tanpa ambisi. Aku berharap… kita bisa mencintai dengan tulus."* Surat itu adalah kunci. **BAGIAN III: Kebenaran Pahit dan Pembalasan yang Sunyi** Jiang Yue akhirnya ingat. Ia ingat Mei Lin, permaisuri yang berambisi, yang rela mengorbankan cintanya demi kekuasaan. Ia ingat bagaimana ia menusuk Kaisar Xuanzong dari belakang, bagaimana ia menyaksikan kerajaannya runtuh. Ia ingat sumpah yang ia ucapkan sebelum meninggal: *"Aku akan membayar dosa-dosaku. Aku akan menebus kesalahanku."* Namun, di kehidupan ini, ia tidak ingin membalas dendam. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu. Ia hanya ingin… memaafkan. Lin Wei, yang sekarang mengingat dirinya sebagai Kaisar Xuanzong, dipenuhi amarah. Ia ingin membalas dendam atas pengkhianatan Mei Lin, atas kematiannya yang tragis. Ia ingin Jiang Yue menderita seperti yang ia derita seratus tahun yang lalu. Namun, Jiang Yue menolak. Ia menatapnya dengan tatapan yang tenang, tatapan yang penuh dengan keheningan dan pengampunan. "Aku tahu dosaku, Wei," bisik Jiang Yue. "Tapi aku tidak akan membiarkan masa lalu menghancurkan kita. Aku memilih untuk memaafkan. Aku memilih untuk mencintai." Kata-kata itu menusuk hati Lin Wei lebih dalam daripada pedang mana pun. Ia melihat di mata Jiang Yue ketulusan yang tidak pernah ia lihat di mata Mei Lin. Ia melihat penyesalan, penebusan, dan cinta yang tulus. Amarahnya mereda. Ia menyadari bahwa pembalasan dendam tidak akan membawa kedamaian. Hanya pengampunan yang bisa membebaskan mereka dari belenggu masa lalu. Lin Wei memeluk Jiang Yue erat-erat. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa *ringan*, seolah beban seratus tahun telah diangkat dari pundaknya. **EPILOG:** Musim semi kembali tiba di Kota Yuzhou. Bunga *mei hua* bermekaran dengan indahnya. Jiang Yue dan Lin Wei berdiri di Jembatan Seribu Air Mata, menatap matahari terbenam. "Apakah kamu bahagia?" tanya Lin Wei. Jiang Yue tersenyum. "Ya. Akhirnya, tangisan ini… *tak lagi manusiawi*." Mereka berpegangan tangan, berjalan menjauh. Angin berbisik di telinga mereka, membawa suara-suara dari masa lalu. *"…Jangan lupakan janji kita, Mei Lin…"*
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Digigit Katak

0 Comments: