Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Malam itu, salju turun dengan ganasnya di atas Paviliun Bulan. Angin menggeram, me...

Bikin Penasaran: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Bikin Penasaran: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Bikin Penasaran: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Bikin Penasaran: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Malam itu, salju turun dengan ganasnya di atas Paviliun Bulan. Angin menggeram, menyayat kulit seperti belati dingin, sama dinginnya dengan tatapan Xu Mei Hua pada pria di hadapannya. Li Wei, pria yang dulu menjadi mataharinya, kini hanya bayangan redup di bawah rembulan yang muram.

"Wei Gege," bisiknya, suaranya serak dan bergetar. Asap dupa mengepul di antara mereka, wangi cendana yang dulu menenangkan, kini terasa menyesakkan. "Kau menatapku dengan cinta... dulu. Tapi cinta itu kini beracun."

Li Wei tidak menjawab. Matanya, yang dulu penuh kehangatan saat menatap Mei Hua, kini bagai danau beku. Di wajah tampannya terukir garis-garis keras, bekas rahasia yang tak terucapkan, dosa yang tak terampuni.

Dulu, mereka adalah dua jiwa yang terikat oleh janji suci di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Janji untuk saling melindungi, untuk saling mencintai hingga akhir hayat. Namun, waktu merenggut semua itu. Perlahan tapi pasti, kebahagiaan mereka terkikis oleh badai intrik istana, ambisi keji, dan pengkhianatan yang meremukkan hati.

"Kau ingat malam itu, Wei Gege?" Mei Hua melanjutkan, air mata mulai mengalir di pipinya, membeku menjadi kristal es di bawah cahaya rembulan. "Malam di mana darah mewarnai salju menjadi merah? Malam di mana janji kita terbakar menjadi abu?"

Bayangan ngeri melintas di mata Li Wei. Malam itu, malam di mana ayah Mei Hua, seorang jenderal besar yang setia, difitnah dan dieksekusi atas tuduhan palsu pengkhianatan. Li Wei, saat itu seorang pangeran yang haus kekuasaan, membiarkannya terjadi. Ia tahu ayah Mei Hua adalah satu-satunya yang bisa menghalangi jalannya menuju tahta.

"Kau... kau tahu kebenaran, Wei Gege. Kau tahu ayahku tidak bersalah!" teriak Mei Hua, suaranya memecah keheningan malam.

Li Wei akhirnya membuka mulutnya. "Aku... aku terpaksa. Aku harus melakukan apa yang kulakukan."

"TERPAKSA?!" Mei Hua tertawa hambar. "Kau memilih kekuasaan di atas cintaku! Kau memilih tahta di atas nyawa ayahku! Dan sekarang, kau berdiri di hadapanku, memohon ampun?"

Mei Hua mengangkat tangannya, memperlihatkan belati perak yang berkilauan di bawah cahaya rembulan. Belati itu, dulunya hadiah dari Li Wei, kini akan menjadi alat penebusan dosanya.

"Cinta yang beracun harus dimusnahkan, Wei Gege."

Tidak ada perlawanan. Li Wei memejamkan matanya, membiarkan Mei Hua mendekat. Ia tahu ia pantas mendapatkan ini. Ia tahu ia telah menghancurkan hati wanita yang paling dicintainya.

Dengan gerakan tenang namun mematikan, Mei Hua menusukkan belati itu ke jantung Li Wei. Tidak ada jeritan, hanya desahan lirih yang tertahan. Li Wei membuka matanya, menatap Mei Hua dengan sisa-sisa cinta yang masih membara.

"Aku... mencintaimu..." bisiknya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Mei Hua mencabut belati itu, membiarkan tubuh Li Wei tergeletak di atas salju yang memerah. Ia menatap mayat pria yang dulu dicintainya, pria yang kini menjadi korbannya. Balas dendam telah dituntaskan. Hatinya yang terluka kini terasa... kosong.

Ia berbalik, berjalan menjauh dari Paviliun Bulan, meninggalkan jejak kaki berdarah di atas salju. Ia telah membalas dendam atas kematian ayahnya, atas pengkhianatan Li Wei. Tapi, harga yang harus dibayarnya terlalu mahal. Kebahagiaannya telah direnggut, hatinya telah membeku.

Saat mentari pagi mulai merekah di ufuk timur, menerangi salju yang berlumuran darah, Mei Hua menghilang ke dalam kabut. Dendamnya telah terbalaskan, tetapi jiwanya selamanya akan dihantui oleh malam itu... malam di mana cinta berubah menjadi racun yang mematikan.

Dan bisikan angin membawa kabar, bahwa sang ratu yang baru naik tahta, tidak pernah benar-benar tersenyum.

You Might Also Like: 191 Transform Your Smile In 2023 Top

0 Comments: