**Air Mata yang Menyambut Balas Dendam** Hujan Jakarta. Asap kopi mengepul dari cangkir porselen putih di balkon apartemen minimalis milik A...

Drama Abiss! Air Mata Yang Menyambut Balas Dendam Drama Abiss! Air Mata Yang Menyambut Balas Dendam

Drama Abiss! Air Mata Yang Menyambut Balas Dendam

Drama Abiss! Air Mata Yang Menyambut Balas Dendam

**Air Mata yang Menyambut Balas Dendam** Hujan Jakarta. Asap kopi mengepul dari cangkir porselen putih di balkon apartemen minimalis milik Aileen. Cahayanya redup, serupa hatinya. Di tangannya, ponsel pintar itu bergetar pelan – bukan notifikasi darinya. Bukan pesan dari masa lalu yang *terkutuk* itu. Dulu, layar ini penuh dengan obrolan mereka. Emoji ciuman, janji bertemu, foto-foto konyol yang sekarang terasa seperti belati tajam yang menusuk ulu hati. Dulu, getarannya adalah melodi kebahagiaan. Sekarang, sunyi. Sunyi yang memekakkan telinga. Aileen membuka aplikasi LINE, menggulir ke bawah hingga menemukan namanya: REN. Profilnya masih foto mereka berdua di Busan, tersenyum di bawah payung merah. *Brengsek.* Dulu, Ren adalah udara. Tanpa dia, Aileen sesak napas. Pertemuan mereka terasa seperti takdir. Pertemuan antara mahasiswi arsitektur yang idealis dengan *pengusaha muda* yang penuh misteri. Pertemuan yang seharusnya tak pernah terjadi. Cinta mereka tumbuh di antara sketsa bangunan dan janji manis. Di antara *latte art* di kafe-kafe hipster dan ciuman curian di bioskop gelap. Cinta yang terasa sempurna, hingga semuanya runtuh seperti kartu domino. Ren menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Hanya sisa *chat* yang tak terkirim di *draft* aplikasi pesan, dan aroma parfum *oud* yang tertinggal di bantalnya. Dua tahun berlalu. Aileen bangkit. Lebih kuat. Lebih dingin. Kesedihan itu, ia sulap menjadi ambisi. Mimpi yang dulu mereka rajut bersama, kini ia kejar sendiri. Ia menjadi arsitek terkenal, merancang gedung-gedung pencakar langit yang menantang gravitasi. Di setiap desainnya, ada *setitik* dendam. Suatu malam, sebuah undangan tiba. Pembukaan hotel mewah terbaru di Jakarta. Rancangan siapa? Aileen. Siapa pemiliknya? *Ren*. Jantung Aileen berdebar kencang. Kesempatan. Malam pembukaan. Aileen berdiri anggun dalam balutan gaun hitam. Ia melihat Ren dari kejauhan. Lebih dewasa. Lebih tampan. Lebih *berdosa*. Ren mendekat, matanya memancarkan penyesalan. "Aileen… aku…" Aileen mengangkat tangannya, menghentikan kata-katanya. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku sudah tahu semuanya, Ren. Tentang bisnis gelapmu. Tentang alasanmu meninggalkanku. Semuanya." Ren terdiam. Wajahnya pucat pasi. Aileen mendekat, berbisik di telinganya, "Hotel ini indah. Sayang sekali, besok pagi, semua orang akan tahu bahwa uang yang membangunnya berasal dari… *darah*." Aileen mundur, menatap Ren dengan mata sedingin es. Ia mengangkat gelas sampanye, lalu menuangkannya ke lantai. Ia berbalik, berjalan meninggalkan Ren yang membeku di tempatnya. Di ponselnya, Aileen mengetik pesan terakhir: "Terima kasih atas inspirasinya." Lalu ia memblokir nomor Ren. Di luar, hujan masih mengguyur Jakarta. Aileen tersenyum. Hatinya kosong. *Puas*. *** Kenangan itu… akan tetap ada.
You Might Also Like: 177 Perbedaan Pelembab Untuk

0 Comments: