**Kabut Senja di Lembah Terlarang** Hujan menggigil. Seperti pecahan kaca yang menghujam jantung, setiap tetesnya mengingatkanku pada malam ...

Cerpen: Aku Mencintaimu Sampai Nama Kita Terhapus Dari Ingatan Langit Cerpen: Aku Mencintaimu Sampai Nama Kita Terhapus Dari Ingatan Langit

Cerpen: Aku Mencintaimu Sampai Nama Kita Terhapus Dari Ingatan Langit

Cerpen: Aku Mencintaimu Sampai Nama Kita Terhapus Dari Ingatan Langit

**Kabut Senja di Lembah Terlarang** Hujan menggigil. Seperti pecahan kaca yang menghujam jantung, setiap tetesnya mengingatkanku pada malam itu. Malam ketika **DIA** mengkhianatiku. Lembah ini, yang dulu menjadi saksi bisu janji abadi kami, kini hanya dipenuhi bayangan patah. Bayangan masa lalu yang terus mengejar, tanpa ampun. Aku, Lin Yue, berdiri di tepi jurang. Di bawah sana, desa terpencil tempatku bersembunyi selama ini. Empat belas tahun. Empat belas tahun merajut luka menjadi jubah baja. Empat belas tahun menyusun kepingan rencana yang akan segera kulaksanakan. Angin meniup helai rambutku yang memutih sebelum waktunya. Di kejauhan, tampak cahaya lentera yang nyaris padam, menyoroti sosok yang aku kenal baik. Dia. Zhang Wei. Dulu, senyumnya adalah matahariku. Sentuhannya adalah kehangatan di musim dingin. Sekarang, melihatnya hanya membangkitkan bara dendam yang membakar habis seluruh sisa cinta. "Lin Yue," suaranya parau, dipenuhi penyesalan yang terasa palsu. "Aku mencarimu..." Aku berbalik perlahan. Wajahku tanpa ekspresi. "Mencari apa, Zhang Wei? Mencari sisa-sisa hatiku yang kau hancurkan? Mencari kedamaian yang kau rampas?" Dia terdiam. Tatapannya memohon ampun. "Aku... aku tahu aku salah. Tapi aku melakukannya demi..." "Demi apa?" Aku memotong ucapannya dengan dingin. "Kekuasaan? Kekayaan? Atau demi wanita lain yang lebih mempesona dariku?" Kilat menyambar, menerangi wajahnya yang pucat. Hujan semakin deras, membasahi jubahnya hingga melekat di tubuhnya. Dia terlihat rapuh, menyedihkan. Tapi aku tidak merasakan sedikitpun iba. "Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Lin Yue," bisiknya. "Ada kekuatan yang lebih besar dari yang kau bayangkan. Kekuatan yang..." Aku tertawa sinis. "Kekuatan? Kau pikir aku takut dengan kekuatan? Aku telah hidup dalam ketakutan selama empat belas tahun! Aku telah membangun kekuatanku sendiri. Kekuatan yang akan menghancurkanmu!" Aku maju selangkah, mendekatinya. Cahaya lentera yang nyaris padam kini menyoroti mataku. Mata yang dipenuhi kegelapan. "Kau pikir aku hanya bersembunyi, Zhang Wei?" bisikku. "Kau salah. Aku sedang mempersiapkan diri. Mempersiapkan **kiamatmu**." Zhang Wei mundur ketakutan. "Tidak! Lin Yue, jangan lakukan ini! Aku bersumpah aku tidak punya pilihan!" Aku mengulurkan tangan, menyentuh pipinya. Sentuhan yang dulu penuh cinta, kini terasa dingin dan mematikan. "Kau selalu punya pilihan, Zhang Wei," bisikku. "Kau memilih untuk mengkhianatiku. Dan sekarang, kau harus membayar harganya." Aku mendorongnya. Dia jatuh. Hujan menyamarkan jeritannya yang terakhir. Aku berbalik, meninggalkan lembah yang basah oleh darah dan air mata. Dendam telah terbalas. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal. Sesuatu yang tidak aku mengerti. *Sebenarnya, siapa yang selama ini menarik benang takdir, dan kenapa Zhang Wei terlihat seperti pion yang dikorbankan?*
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Digigit

0 Comments: