**Kau Pergi Bersama Waktu, Tapi Aku Tinggal Bersama Kenangan** Kabut *tebal* menggantung di Pegunungan Wuyi, menyelimuti puncak-puncak batu ...

Wajib Baca! Kau Pergi Bersama Waktu, Tapi Aku Tinggal Bersama Kenangan Wajib Baca! Kau Pergi Bersama Waktu, Tapi Aku Tinggal Bersama Kenangan

Wajib Baca! Kau Pergi Bersama Waktu, Tapi Aku Tinggal Bersama Kenangan

Wajib Baca! Kau Pergi Bersama Waktu, Tapi Aku Tinggal Bersama Kenangan

**Kau Pergi Bersama Waktu, Tapi Aku Tinggal Bersama Kenangan** Kabut *tebal* menggantung di Pegunungan Wuyi, menyelimuti puncak-puncak batu karang seperti jubah hantu. Di antara reruntuhan kuil kuno, seorang pria berdiri. Pakaiannya compang-camping, wajahnya tersembunyi di balik bayangan topi jerami lebar. Lima belas tahun. Lima belas tahun sejak dia dinyatakan mati, tenggelam di Sungai Yangtze. Dulu, dia adalah Pangeran Rui, pewaris takhta yang hilang. Sekarang, dia hanyalah bayangan, hantu yang kembali menghantui istana. Dia melangkah memasuki Istana Jingxin, lorong-lorongnya sepi dan dingin. Dindingnya yang dilapisi batu pualam menyimpan bisikan masa lalu, aroma dupa dan intrik. Di ujung lorong, dia melihatnya. Ratu Jing, *kakaknya* yang dulu begitu dicintainya. Ratu Jing berdiri membelakanginya, menghadap kolam teratai yang membeku. Gaun sutra ungunya berkibar tertiup angin, siluetnya terlihat rapuh namun anggun. "Pangeran Rui?" Suara Ratu Jing lirih, seperti gesekan sutra. Dia tidak menoleh. "Aku kira arwahmu sudah tenang di dasar sungai." Pria itu, Pangeran Rui yang kembali, mendekat. Setiap langkahnya bagaikan gema yang mengganggu keheningan. "Tenang? Bagaimana bisa aku tenang ketika *kau* masih bernapas, Jie Jie?" (Jie Jie: Kakak perempuan) Ratu Jing akhirnya berbalik. Matanya yang indah menyimpan kesedihan yang dalam. "Kau tidak mengerti, Rui. Aku melakukannya untukmu." "Melakukannya untukku? Dengan meracuniku dan melemparkanku ke sungai?" Nada suara Pangeran Rui datar, namun di baliknya tersimpan lautan amarah. "Aku harus, Rui! Ayahmu, Kaisar, ingin kau mati! Dia melihatmu sebagai ancaman. Kau terlalu populer, terlalu dicintai. Aku menyelamatkanmu dari siksaan yang lebih mengerikan!" Pangeran Rui tertawa pahit. Tawa itu menggema di lorong yang sunyi, memecah kesunyian yang mencekam. "Menyelamatkanku? Dengan mencuri identitasku? Dengan menaiki takhta yang seharusnya menjadi milikku? Dengan menikahi tunanganku, Selir Mei?" Ratu Jing terdiam. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku terpaksa! Aku tidak punya pilihan! Aku harus menjaga kekaisaran tetap aman!" Pangeran Rui mencengkeram dagu Ratu Jing dengan kasar. Matanya berkilat marah. "Aman? Kekaisaran aman ketika kau duduk di takhta yang berlumuran darahku? Kau pikir aku percaya dengan kebohonganmu?!" Dia melepaskan cengkeramannya. Ratu Jing terhuyung mundur. "Kau salah, Rui," ucap Ratu Jing, suaranya bergetar. "Kau pikir aku hanya berkorban? Kau salah besar. Aku tidak pernah menjadi korban. Aku adalah *penguasa* nasibmu, sejak awal." Ratu Jing tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Pangeran Rui meremang. Senyum yang mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kabut dan rahasia. Senyum yang menyingkapkan bahwa racun yang diminum Pangeran Rui lima belas tahun lalu *sebenarnya* adalah ramuan yang membuatnya tampak mati, sebuah rencana yang disusun rapi oleh kakaknya sendiri. "Kau pikir aku hanya melindungimu? Tidak, Rui. Aku *menciptakanmu*. Aku menciptakan legenda Pangeran Rui yang mati muda, pahlawan yang dikhianati. Legenda itu yang membuatku memiliki *kekuatan*." Pangeran Rui menatap kakaknya dengan mata terbelalak. Dia tidak percaya. Dia tidak *mungkin* percaya. "Sekarang," kata Ratu Jing, "giliranmu untuk menghilang. Kali ini, selamanya." Dia memberi isyarat. Dari balik pilar-pilar batu, muncul pengawal-pengawal bersenjata. Mereka mengepung Pangeran Rui. Sebelum Pangeran Rui sempat bereaksi, sebuah pedang menembus dadanya. Dia jatuh berlutut, menatap Ratu Jing dengan tatapan penuh pengkhianatan. Ratu Jing berlutut di sampingnya. Dia mengusap rambut Pangeran Rui dengan lembut. "Sampai jumpa, adikku. Terima kasih telah menjadi bidak yang sempurna dalam permainanku." Pangeran Rui menghembuskan napas terakhirnya. Di matanya, ada satu pertanyaan yang tak terjawab. Ratu Jing berdiri. Dia menatap mayat adiknya, tanpa penyesalan. Dia berbalik dan melangkah meninggalkan lorong. Kabut pegunungan masih menyelimuti istana, menyimpan rahasia kelam yang baru saja terungkap. *Dan ternyata, selama ini, dia yang mati.*
You Might Also Like: 76 Alasan Skincare Lokal Dengan

0 Comments: