**Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu di Pikiranku** Hujan abu menyelimuti Kota Terlarang. Di bawah langit senja yang kelabu, b...

TOP! Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu Di Pikiranku TOP! Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu Di Pikiranku

TOP! Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu Di Pikiranku

TOP! Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu Di Pikiranku

**Aku Menolak Takdir, Tapi Tak Bisa Menolak Namamu di Pikiranku** Hujan abu menyelimuti Kota Terlarang. Di bawah langit senja yang kelabu, berdiri aku, Lin Yue, seorang putri yang seharusnya menghabiskan sisa hidupnya dalam sangkar emas. Di hadapanku, berdiri dia, Wei Jun, jenderal kesayanganku, pengkhianatku, cinta pertamaku, dan alasan mengapa hatiku remuk redam. Dulu, di bawah pohon persik yang bermekaran, kami berjanji. Janji untuk melarikan diri, janji untuk hidup bebas, janji yang KAU INGKARIIII! Sekarang, dia berdiri di sini, mengenakan zirah emas yang memantulkan cahaya redup, tatapannya sedingin salju. Dia menikah dengan adik perempuanku, Ratu Wei. "Lin Yue," bisiknya, suaranya serak oleh angin dan beban yang tak terucapkan. "Ini adalah... yang terbaik." *Terbaik?* Bibirku bergetar. Terbaik baginya, mungkin. Terbaik untuk ambisinya, untuk tahta yang kini berada dalam jangkauannya. "Terbaik? Kau mengkhianatiku, Wei Jun. Kau membunuh mimpi-mimpiku, harapan-harapanku, dan kau menyebutnya TERBAIK?!" Air mata mengalir di pipiku, bercampur dengan abu yang jatuh dari langit. Aku tidak menangis karena patah hati, tetapi karena marah. Marah pada takdir yang mempermainkanku, marah padanya yang memilih tahta di atas cinta kami, marah pada diriku sendiri yang begitu bodoh mempercayainya. Dia mendekat, mencoba menyentuh pipiku, tapi aku mundur. Jari-jariku gemetar saat aku merogoh jubahku. Di sana, tersembunyi, sebuah pil kecil berwarna merah delima. Hadiah perpisahan dari ibuku, yang selalu tahu bagaimana melindungi putrinya, bahkan dari alam baka. "Kau mencintaiku, bukan?" tanyaku, suaraku tenang, menakutkan. Wei Jun terdiam, matanya menunjukkan sedikit keraguan. "Lin Yue..." "Jawab aku!" Dia mengangguk, nyaris tak terlihat. Kebohongan. Atau mungkin kebenaran yang terkubur dalam-dalam di balik lapis baja keputusasaan dan ambisi. Aku tersenyum. Senyum dingin, senyum yang bukan milikku. Senyum seorang putri yang ditolak takdir, tetapi tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Aku menelan pil itu. Rasa manis pahit menjalar di lidahku. "Kau tidak tahu, Wei Jun," bisikku. "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Dia menatapku dengan ngeri, menyadari terlambat. Terlambat untuk menyelamatkanku, terlambat untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Beberapa hari kemudian, Ratu Wei, adik perempuanku, meninggal secara tiba-tiba. Racun yang sama yang mengakhiri hidupku, ditemukan dalam minumannya. Sebuah kesalahan tragis, kata mereka. Takdir yang kejam, gumam para pelayan. Namun, aku tahu lebih baik. Aku tahu bahwa takdir memang kejam, dan kadang-kadang, takdir membutuhkan tangan yang sedikit kotor untuk menegakkan keadilan. Dan Wei Jun? Dia hidup, dengan mahkota di kepalanya dan penyesalan di hatinya. Dia memerintah kerajaan yang dibangun di atas pengkhianatan dan air mata. Setiap hari, dia akan mengingatku. Setiap hari, dia akan membayar harga atas pilihan yang dia buat. Namamu akan selalu hidup di pikiranku, Wei Jun, dan dendamku... akan terus membara di jiwamu.
You Might Also Like: Jualan Skincare Passive Income Kota

0 Comments: