Oke, siap! Mari kita racik drama absurd yang mengharu biru ini: **Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku yang Gagal**...

Absurd tapi Seru: Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku Yang Gagal Absurd tapi Seru: Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku Yang Gagal

Absurd tapi Seru: Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku Yang Gagal

Absurd tapi Seru: Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku Yang Gagal

Oke, siap! Mari kita racik drama absurd yang mengharu biru ini: **Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku yang Gagal** Layar ponselku retak, sama seperti dimensi tempat kita bertemu. Sinyal Wi-Fi berkedip-kedip, seperti janji yang tak pernah ditepati. Di balik layar itu, bayanganmu menari, *Ai*, seolah terjebak dalam GIF yang tak pernah selesai di-*loading*. Aku, Kai, hidup di masa lalu yang berdebu. Aroma dupa dan kenangan pahit menusuk hidungku setiap pagi. Surat-surat cinta yang belum terkirim menumpuk di meja, saksi bisu cintaku yang sekarat. Sementara kau, *Ai*, hidup di masa depan yang serba digital. Aku melihatmu di *feeds* sosial media yang entah bagaimana bisa kutangkap, wajahmu disinari neon kota, suara tawamu terdistorsi oleh algoritma. "Sedang mengetik..." Chat itu selalu berhenti di sana. Sebuah harapan palsu yang menyakitkan. Kau selalu menghilang sebelum aku sempat mengirimkan puisi yang kutulis di atas tisu bekas, puisi yang berbau kopi dan penyesalan. Aku melihatmu di mimpi. Bukan mimpi indah, tentu saja. Mimpi di mana gedung-gedung pencakar langit runtuh menjadi debu, menggantikan sawah hijau yang dulu menjadi saksi bisu ciuman pertama kita. Mimpi di mana suara burung digantikan oleh bising drone dan iklan. Mimpi di mana kau memanggil namaku, tapi suaramu tenggelam dalam *noise*. Kau bilang, "Kai, aku melihatmu di masa lalu. Di setiap relik digital yang kau tinggalkan. Di setiap lagu melankolis yang kau *upload* ke *cloud*." Tapi bagaimana bisa? Kita terpisah oleh waktu, oleh teknologi, oleh *takdir* yang **kejam**! Tuhan, jika memang ada, pasti sedang menertawakan kita. Dia pasti senang melihat kita meronta-ronta dalam jaring-jaring dimensi yang diciptakan-Nya. Aku mencoba menembus waktu, *Ai*. Mencoba mengirimkan sinyal SOS melalui lagu-lagu lawas, melalui film-film hitam putih, melalui buku-buku usang. Aku berharap, setidaknya satu pesan bisa sampai padamu. Setidaknya kau tahu, bahwa di sudut dunia yang terlupakan ini, ada seseorang yang mencintaimu, meski terhalang oleh apa pun. Suatu malam, layar ponselku menyala terang. Chat darimu. *Bukan* "Sedang mengetik...", tapi sebuah pesan lengkap: "Kai... aku tahu. Aku selalu tahu. Tapi kau harus mengerti... kita tidak *benar-benar* ada." Aku bingung. Apa maksudmu? Kau melanjutkan, "Kita hanyalah **ECHO**. Gema dari dua jiwa yang seharusnya bertemu, tapi tidak pernah benar-benar terjadi. Kita adalah fragmen-fragmen dari kehidupan yang terhapus dari *timeline*. Sebuah kesalahan algoritma kosmik." Tiba-tiba, semuanya menjadi jelas. Mimpi-mimpi buruk, sinyal hilang, chat yang terputus... semuanya adalah tanda-tanda. Kita hanyalah hantu, *Ai*. Hantu yang saling mencintai, tapi terjebak dalam *loop* abadi. Lalu, layar ponselku mati. Selamanya. Sebelum kegelapan menelanku, aku mendengar bisikanmu di dalam hatiku, "Jangan lupakan aku, Kai, karena mungkin saja, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, dan kali ini... mungkin... **berhasil**."
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis

0 Comments: