**Hujan Menggigil di Kota Terlupakan** Hujan menggigil membasahi atap-atap kota kuno Jinling. Setiap tetesnya terasa seperti jarum menusuk k...

Drama Baru! Ia Mencariku Di Langit, Padahal Aku Di Dadanya Sendiri Drama Baru! Ia Mencariku Di Langit, Padahal Aku Di Dadanya Sendiri

Drama Baru! Ia Mencariku Di Langit, Padahal Aku Di Dadanya Sendiri

Drama Baru! Ia Mencariku Di Langit, Padahal Aku Di Dadanya Sendiri

**Hujan Menggigil di Kota Terlupakan** Hujan menggigil membasahi atap-atap kota kuno Jinling. Setiap tetesnya terasa seperti jarum menusuk kalbu, mengingatkanku pada malam itu, malam pengkhianatan itu. Aku, Lin Mei, berdiri di bawah payung usang, menatap kedai teh *Yue Hua* yang remang-remang. Dulu, tempat ini adalah saksi bisu janji-janji manis antara aku dan dia, Wei Jun. Sekarang, hanya menyisakan **BAYANGAN** yang patah. Lima tahun telah berlalu. Lima tahun aku mencari Wei Jun, lelaki yang kucintai melebihi diriku sendiri. Ia menghilang tanpa jejak, meninggalkanku dengan luka menganga dan sebuah surat bertinta pudar: "Maafkan aku, Lin Mei. Aku tidak pantas untukmu." Bohong. Wei Jun berbohong. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar ketidakmampuan untuk bersamaku. Setiap hari, aku membaca ulang surat itu, mencari petunjuk tersembunyi di antara baris-barisnya. Aku menelusuri setiap sudut kota, setiap gang sempit, setiap kedai teh yang pernah kami kunjungi. *Ia mencariku di langit, padahal aku di dadanya sendiri.* Begitulah pepatah kuno itu berbisik di telingaku. Tapi aku tak percaya. Aku yakin, Wei Jun menyembunyikan kebenaran di suatu tempat, dan aku akan menemukannya. Cahaya lentera di kedai *Yue Hua* nyaris padam, berkedip-kedip seperti harapan yang menipis. Aku masuk, aroma teh melati menyambutku, aroma yang dulu sangat kusukai. Di pojok ruangan, seorang lelaki duduk membelakangi. Rambutnya panjang tergerai, pundaknya tampak lesu. "Wei Jun?" bisikku ragu. Lelaki itu berbalik. Bukan Wei Jun. Melainkan seorang pria paruh baya dengan tatapan kosong. "Dia sudah lama tidak ke sini," katanya dengan suara serak. "Kau mencari Wei Jun? Dia... menghilang." Menghilang? Lagi-lagi kata itu. Seolah-olah Wei Jun bisa begitu saja lenyap dari muka bumi. Aku duduk di seberang pria itu, memesan teh pahit. Hujan semakin deras, menggema di atap kedai. Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasku. Di dalamnya, terdapat potongan giok berbentuk naga. Potongan yang sama dengan yang dimiliki Wei Jun. Dulu, kami membelinya sebagai simbol cinta abadi. "Kau mengenalnya?" tanyaku, menunjukkan potongan giok itu. Pria itu terkejut. Matanya membesar, lalu beralih ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dari mana kau mendapatkan itu?!" tanyanya dengan nada mendesak. Aku menarik napas dalam-dalam. "Ini milik Wei Jun. Aku... tunangannya." Pria itu tertawa sinis. "Tunangan? Wei Jun tidak pernah memiliki tunangan." Aku mengepalkan tangan. "Kau berbohong! Aku dan Wei Jun..." "Kau dibutakan oleh cinta," potong pria itu. "Wei Jun tidak pernah mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu." Kata-kata itu menghantamku seperti badai. Memanfaatkan? Aku? "Untuk apa?" tanyaku dengan suara bergetar. Pria itu mendekat, berbisik di telingaku. "Untuk membalas dendam. Semua ini... semua ini adalah rencananya." Mataku memanas. Balas dendam? Rencana? Apa yang dia maksud? Pria itu tersenyum pahit. "Lima tahun lalu, Wei Jun tidak menghilang. Dia... hanya mengubah identitasnya." Jantungku berdegup kencang. Aku menatap pria itu, berusaha memahami apa yang baru saja dikatakannya. "Dia masih di sini, Lin Mei. Dia selalu ada di dekatmu. Dan sekarang, saatnya kau mengetahui... **AKULAH WEI JUN**."
You Might Also Like: What Is Policy Number On Insurance Card

0 Comments: