## Aku Menatap Wajahmu di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku Hujan abu menggantung di udara, serupa kenangan yang tak mau luruh. Di tanganku, majalah gaya hidup edisi terbaru. Di sampulnya, wajahmu. Semakin tampan, semakin dingin. **Dulu**, wajah itu adalah mata air di padang gersang hatiku. *Sekarang*, gurun Sahara yang membentang di antara kita. Foto itu begitu **sempurna**. Senyum tipis yang dulu membuatku berdebar, kini terasa seperti belati yang ditancapkan perlahan. Aku ingat janjimu, di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran lima tahun lalu: "Selamanya, Mei Hua. Aku akan selalu bersamamu." Selamanya? Rupanya, selamanya bagimu hanya sepanjang musim semi. Kamu memilihnya. Putri sulung keluarga Li, pewaris tahta bisnis raksasa. Pilihan *logis*. Pilihan yang akan mendongkrak karirmu, menjamin masa depanmu. Aku? Hanya gadis desa dengan mimpi yang terlalu tinggi, cinta yang terlalu tulus. Kulihat lagi matamu di foto itu. Mata yang dulu penuh kehangatan, kini memancarkan kekosongan. Atau, benarkah aku melihatnya? Mungkin hanya ilusiku. Tapi, di kedalaman pupil itu, aku melihat sekelebat *penyesalan*. Penyesalan yang datang terlambat. Aku放下 (fang xia melepaskan) masa lalu. Aku membangun diriku. Aku menuai kesuksesan. Aku, Mei Hua, kini adalah direktur utama perusahaan teknologi yang sedang *naik daun*. Aku, Mei Hua, yang lima tahun lalu kau tinggalkan demi ambisimu. Dan sekarang, perusahaanmu, Li Corporation, membutuhkan investasi. Butuh suntikan dana segar untuk menyelamatkan diri dari jurang kebangkrutan. Dan tahukah kamu, siapa yang duduk di kursi penentu keputusan investasi itu? Aku. Aku melihatmu di ruang rapat, rapi dalam setelan jas mahal. Kau menyapaku dengan canggung, senyum palsu terpatri di wajahmu. "Mei Hua… senang bertemu kembali." Senang? Apakah kau benar-benar senang? Atau hanya terkejut mendapati gadis desa yang dulu kau remehkan, kini berdiri sejajar denganmu, bahkan mungkin *di atasmu*? Aku tersenyum padamu, senyum yang sama palsunya. "Tentu saja, Tuan Li. Saya selalu senang bertemu dengan kolega potensial." Aku tahu, dalam hatimu, kau sedang berhitung. Berharap aku akan melupakan masa lalu, demi keuntungan bisnis. Kau salah. Aku tidak pernah melupakan apa pun. Investasi itu… tidak akan terjadi. Bukan karena dendam. Tapi karena, menurut analisis *objektifku*, Li Corporation terlalu berisiko. Terlalu banyak utang, terlalu sedikit inovasi. Bisnis semata, bukan? Kamu akan jatuh, Tuan Li. Jatuh sepertimu menjatuhkanku lima tahun lalu. Bukan aku yang menjatuhkanmu. Ini adalah konsekuensi dari pilihanmu. Ini adalah *keadilan*. Aku menatapmu sekali lagi. Kali ini, kau yang menunduk. Wajahmu memucat. Kau tahu, ini *akhir*. Semua yang kau raih, semua yang kau korbankan, akan lenyap. Seperti janji-janji yang kau ucapkan di bawah pohon sakura. Dan aku? Aku akan berdiri di sini, menyaksikan kejatuhanmu, dengan senyum simpul di bibirku. Apakah ini cinta yang berubah menjadi dendam, atau hanya takdir yang menuntut pertanggungjawaban atas hati yang patah?
You Might Also Like: Review Moisturizer Lokal Untuk Kulit

0 Comments: