## Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus Hujan turun di atas makam Nyonya Li, sederas air mata yang tak sempat menetes saa...

Ini Baru Drama! Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus Ini Baru Drama! Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus

Ini Baru Drama! Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus

Ini Baru Drama! Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus

## Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus Hujan turun di atas makam Nyonya Li, sederas air mata yang tak sempat menetes saat ia menghembuskan napas terakhirnya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata *penyesalan*. Ia kembali, bukan sebagai Nyonya Li yang anggun dan bergelimang harta, melainkan sebagai *sesuatu* yang lain. Sesuatu yang tak terlihat, namun terasa. Sesuatu yang seperti virus – sebuah **virus cinta** yang menolak dihapus oleh antivirus kebencian dan kebohongan. Dunia roh dan dunia manusia berdampingan, bagai dua sisi cermin yang retak. Ia bisa melihat putranya, Yuan, yang kini berdiri di depan pusaranya, bahunya merosot di bawah beban duka yang berat. Ia ingin memeluknya, mengatakan padanya bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia hanya tertidur sejenak. Tapi ia tak bisa. Ia terikat, seperti bayangan yang menolak pergi, mengekor di belakang kebenaran yang belum terungkap. Rumah besar keluarga Li terasa sunyi, bahkan lebih sunyi dari pemakaman ini. Aroma cendana yang dulu menenangkan kini terasa menyesakkan. Di setiap sudut ruangan, ia melihat *kenangan* – kenangan manis yang kini terasa pahit, kenangan indah yang ternoda oleh **RAHASIA**. Ia mengikuti Yuan, mengawasinya dari balik dinding yang tipis antara dunia. Ia melihat putranya itu berjuang, mencoba menerima kepergiannya, mencoba mengungkap misteri di balik kematiannya. Yuan curiga, merasakan ada yang tidak beres. Insting seorang anak tidak pernah salah, batin Nyonya Li berbisik. Setiap malam, ia mencoba *berkomunikasi*. Ia menggerakkan tirai, menjatuhkan vas bunga, membisikkan nama Yuan dalam mimpi-mimpinya. Usaha yang sia-sia, tentu saja. Dunia manusia dan dunia roh terpisah jurang yang tak terlintasi. Namun, satu malam, Yuan terbangun. Keringat membasahi pelipisnya. Ia menatap ke sekeliling ruangan, matanya memancarkan ketakutan dan... harapan? "Ibu?" bisiknya lirih. Nyonya Li merasakan jantungnya – jika ia masih memiliki jantung – berdegup kencang. Itu *cukup*. Itu pertanda. Ia membimbing Yuan, membisikkan petunjuk dalam mimpi, meninggalkan jejak-jejak samar yang hanya bisa dilihat oleh mata seorang anak yang kehilangan ibunya. Ia mengarahkannya ke buku harian yang tersembunyi, ke surat-surat yang disembunyikan di balik lukisan tua. Rahasia itu perlahan terkuak. Pengkhianatan, kebohongan, dan keserakahan menjalin jaring gelap di sekeliling keluarga Li. Ternyata, kematian Nyonya Li bukanlah kecelakaan. Ia diracun. Oleh seseorang yang dekat dengannya. Meskipun hatinya remuk, Nyonya Li tidak merasakan amarah. Ia tidak mencari balas dendam. Yang ia inginkan hanyalah KEBENARAN. Yang ia inginkan hanyalah melihat putranya bebas dari bayang-bayang kebohongan. Yang ia inginkan hanyalah... kedamaian. Saat Yuan mengungkap kebenaran di hadapan seluruh keluarga, saat dalang di balik semua ini akhirnya mengakui perbuatannya, Nyonya Li merasakan beban di pundaknya terangkat. Virus cintanya telah bekerja, menyebar kebenaran dan menyembuhkan luka. Ia menatap Yuan, matanya dipenuhi air mata – bukan air mata penyesalan, melainkan air mata *kebahagiaan*. Tugasnya telah selesai. Ia menghilang, perlahan, seperti embun pagi yang menguap di bawah sinar matahari. Ia telah menemukan kedamaian. *…dan mungkin, hanya mungkin, ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.*
You Might Also Like: Jual Skincare Anti Jerawat Dan Anti

0 Comments: