**Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama** Hujan kota Beijing bagai air mata tumpah. Di balik jendela apartemenk...

Drama Populer: Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama Drama Populer: Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama

Drama Populer: Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama

Drama Populer: Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama

**Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama** Hujan kota Beijing bagai air mata tumpah. Di balik jendela apartemenku, cahaya lampu neon memantul pada layar ponsel. Notifikasi berkedip, *sunyi*. Dulu, setiap notifikasi darinya adalah dentuman kecil di jantungku, kini hanya gema *kenangan* yang memilukan. Namanya, Lin Yi, masih menghiasi kontak teratas, tapi obrolan terakhir kami terhenti seperti kaset rusak. Sebuah kalimat menggantung, "Aku harus memberitahumu…" dan lalu, *sepi*. Ia menghilang bagai asap kopi di pagi hari. Cinta kami tumbuh di antara *emoji* dan _chat room_ larut malam. Ia adalah seorang *streamer* game, dengan tawa renyah yang mampu menaklukkan ribuan hati. Aku, seorang penulis _freelance_, menemukan ketenangan dalam riuhnya dunianya. Kami merangkai mimpi bersama, membangun kastil pasir digital di atas realita yang rapuh. Aroma kopi late setiap sore di kafe favorit kami, percakapan tanpa henti tentang *metaverse* dan makna hidup, semua itu kini terasa bagai *film* yang diputar ulang tanpa suara. Aku mencari jawabannya. Mengunjungi setiap tempat yang pernah kami datangi. Mencari petunjuk di antara *like* dan komentar pada unggahan terakhirnya. Namun, hanya ada *kabut misteri* yang semakin tebal. Orang-orang mengenalnya sebagai Lin Yi yang selalu ceria, Lin Yi yang tak pernah menyerah. *Tak seorang pun tahu sisi gelapnya.* Dulu, aku pernah menemukan secarik kertas usang di antara buku-bukunya. Tulisan tangan yang kacau, menyebut nama seorang wanita dan sebuah janji yang *tak bisa* ditepati. Aku bertanya padanya, tapi ia hanya tersenyum pahit dan berkata, "Itu masa lalu, bukan urusanmu." *RAHASIA.* Kata itu terus bergaung dalam benakku. Apakah kepergiannya berkaitan dengan masa lalu itu? Apakah ada orang lain di balik senyumnya yang menawan? Aku menggali lebih dalam, menjelajahi _deep web_ dan forum-forum rahasia, hingga akhirnya menemukan *fakta* yang mencengangkan. Lin Yi memiliki adik perempuan yang sakit parah. Ia membutuhkan transplantasi organ yang *mahal*. Untuk menyelamatkan adiknya, ia membuat perjanjian dengan *seseorang* dari masa lalunya. Sebuah perjanjian yang mengharuskannya *menghilang* dari hidupku. Ia tak pernah menangis saat aku pergi. Mungkin karena hatinya sudah hancur berkeping-keping jauh sebelum aku meninggalkannya. *Balas dendam* terlembutku hadir dalam bentuk sebuah *pesan terakhir*. Aku mengunggah sebuah video ke platformnya. Video itu berisi cuplikan terbaik dari momen-momen bahagia kami, diselingi foto-foto adiknya yang tersenyum lemah. Di akhir video, aku menulis: "Lin Yi, aku tahu segalanya. Semoga adikmu sembuh." Aku menutup laptop. Hujan di luar mulai mereda. Sebuah *senyum pahit* terukir di bibirku. Aku memutuskan untuk *pergi*. Meninggalkan semuanya, tanpa kata. Ia mungkin tak pernah menangis saat aku pergi, tapi dunia menangis bersamaku. Dan kini, ia tahu, bahwa aku tahu... ...Ia *tak pernah* benar-benar bebas.
You Might Also Like: Anna Bjerger Stride Art Citiesstockholm

0 Comments: