**Cinta yang Menunggu Seribu Tahun Lagi** Rembulan pucat mengintip di antara celah awan, menyaksikan perpisahan di puncak menara terpencil. Seribu tahun telah berlalu sejak janji itu diucapkan, seribu tahun pula hati Lan Yi mencabik diri dalam kesunyian. Di hadapannya, berdiri Pangeran Zhan, sosok yang dicintainya dengan segenap jiwa, namun terikat pada takdir yang kejam. “Maafkan aku, Lan Yi,” bisik Zhan, suaranya serak tertahan. Manik matanya yang biasanya berbinar kini redup, dipenuhi kesedihan yang mendalam. “Aku… aku tidak bisa ingkar pada sumpah darahku. Tahta membutuhkan seorang pewaris.” Lan Yi membalas tatapannya, air mata membayang di pelupuk mata. Seribu tahun yang lalu, di bawah pohon persik yang bermekaran, Zhan berjanji hanya akan mencintainya seorang. Janji yang terukir dalam jiwa, bukan sekadar di bibir. Namun, kini, janji itu runtuh, hancur berkeping-keping seperti kaca yang terhempas badai. “Kau… KAU BERJANJI, Zhan!” Lan Yi berteriak, suaranya pecah. Angin dingin menyapu air matanya, membuatnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. “Kau berjanji akan memilihku, memilih cinta kita!” Zhan terdiam, tak mampu menjawab. Beban tanggung jawab dan pengkhianatan tampak jelas terpahat di wajahnya. Lan Yi tahu, dia terperangkap. Terperangkap dalam jaring takdir yang ia sendiri rajut. “Aku mencintaimu, Lan Yi. Selamanya,” bisik Zhan akhirnya, sebelum berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lan Yi seorang diri di puncak menara. Hati Lan Yi hancur. Lebih dari sekadar hancur. Hatinya remuk, luluh lantak menjadi debu yang berterbangan bersama angin. Ia berteriak, meraung, memanggil nama Zhan, namun hanya gema yang menjawab. Seribu tahun berlalu. Lan Yi mempelajari seni terlarang, menguasai mantra kuno, dan memanggil kekuatan gelap. Bukan untuk mengutuk Zhan. Bukan untuk menyakitinya secara langsung. Tapi untuk memastikan, **KEBAHAGIAAN** yang dikejar Zhan, kebahagiaan yang diraihnya dengan mengkhianati janji sucinya, akan *terasa* begitu hambar. Hambar seperti abu, pahit seperti empedu. Ia memastikan setiap senyuman yang dilukiskan di wajah Zhan, setiap tawa yang terdengar dari bibirnya, setiap sentuhan kasih sayang yang diterimanya, akan *terasa* kosong, tanpa makna, seolah-olah jiwanya tetap merindukannya, merindukan Lan Yi, abadi selamanya. Seribu tahun yang lalu, dia kehilangan cintanya. Sekarang, takdir akan memastikan Zhan kehilangan kedamaiannya. Dan, ketika senja menyelimuti cakrawala, Lan Yi tersenyum tipis. Senyum yang lebih terasa seperti seringai dingin. *Mencintai atau menghancurkan, bukankah keduanya adalah bentuk kepemilikan abadi?*
You Might Also Like: Is Yamamotos Sleeping Giant Quote Truth

0 Comments: