Oke, ini dia kisah pendek dracin yang kamu minta: **Pelukan yang Tersisa Dalam Bayang Waktu** Derap langkah kaki di lorong-lorong Istana Musim Dingin terasa asing. Mei Lan, pelukis istana dengan bakat **LUAR BIASA**, merasakan debaran aneh di dadanya. Lukisan-lukisan indah di dinding, aroma dupa cendana yang menusuk hidung, semuanya...seperti mimpi yang pernah ia alami. Padahal, ia baru ditunjuk menjadi pelukis istana tiga bulan lalu. Di kehidupan ini, ia hanya Mei Lan, gadis yatim piatu yang beruntung. Tapi, kilasan-kilasan mimpi terus menghantuinya. Sosok wanita berpakaian sutra merah darah, tarian pedang di bawah rembulan, dan **PENGKHIANATAN** yang membekas bagai luka bakar. Suatu sore, saat melukis taman bunga plum yang tengah bermekaran, ia melihatnya. Seorang pria, berdiri di kejauhan, menatapnya dengan tatapan yang...familiar? Wang Zhao, sang Pangeran Kedua, yang terkenal dengan senyum memikat dan ambisi tersembunyi. Mimpi-mimpi itu semakin jelas. Mei Lan bukan hanya pelukis. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Putri Lian, pewaris takhta Kerajaan Yan, yang mati diracun tepat di hari pernikahannya dengan sang Pangeran Kedua. Wang Zhao, tunangannya sendiri, ternyata bersekongkol dengan menteri pemberontak untuk merebut kekuasaan. **DIA** yang membunuhnya. Ketakutan mencengkeram hatinya. Tapi, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Ia bukan lagi Putri Lian yang naif. Ia Mei Lan, seorang pelukis dengan ingatan yang kembali. Ia memiliki kekuatan yang tak disadari Wang Zhao: **KEKUATAN** untuk mengubah takdir. Mei Lan mulai melukis potret Pangeran Kedua. Ia menangkap setiap detail wajahnya, setiap kerutan di sudut matanya, setiap bayangan ambisi di matanya. Lukisan itu begitu **REALISTIS**, begitu menakutkan, sehingga setiap orang yang melihatnya merasakan aura dingin yang menusuk tulang. Lukisan itu menjadi buah bibir di istana. Kaisar, ayah Wang Zhao, tertarik dan meminta Mei Lan untuk melukis potretnya juga. Mei Lan setuju. Di potret Kaisar, ia melukis harapan. Ia melukis kedamaian. Ia melukis kebijaksanaan. Lukisan itu begitu **MENGINSPIRASI**, sehingga Kaisar tergerak untuk menunjuk seorang putra mahkota yang baru: adik laki-laki Wang Zhao yang jujur dan tulus. Wang Zhao murka. Ia menyadari, lukisan Mei Lan telah merenggut takdirnya. Ia mencoba menghancurkan lukisan Kaisar, tapi terlambat. Keputusan sudah bulat. Wang Zhao dikirim ke perbatasan untuk memimpin pasukan melawan suku barbar. Kekuasaannya lenyap. Mei Lan menatap kepergian Wang Zhao dari menara istana. Tidak ada amarah. Tidak ada dendam. Hanya **KELEGAAN** yang tenang. Ia telah mengubah takdir. Ia telah membalas dendam dengan cara yang paling halus: dengan memilih jalan yang berbeda. Saat matahari terbenam, mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu, Mei Lan kembali ke studio lukisnya. Ia meraih kuas dan kanvas baru. Ia akan melukis masa depan. Masa depan yang tidak lagi dibayangi masa lalu. Ia tersenyum tipis, "Mungkin...di kehidupan berikutnya, kita akan bertemu lagi, Wang Zhao..." *** …dan di sana, di kanvas kosong itu, tampak setetes air mata jatuh dan mengering dengan cepat, *seperti janji yang tertunda seribu tahun*.
You Might Also Like: Unveiling Covalent Bonds And Molecular

0 Comments: