Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin* yang Anda minta: **Cinta Itu Berpura-Pura Mati, Agar Bisa Hidup Di Dalam Dendam** Kabut tipis menyelimuti Danau Xi, menyamarkan perahu-perahu kecil yang berlabuh di tepiannya. Suara *guqin* melantun lirih dari paviliun di atas bukit, sendu menusuk kalbu. Mei Hua, dengan gaun *hanfu* berwarna nila, berdiri memandang danau. Angin malam menerbangkan helaian rambutnya, mengungkap wajah yang dulu dipenuhi tawa, kini terukir penyesalan mendalam. Tiga tahun lalu, Mei Hua adalah tunangan Pangeran Zhao, pewaris takhta yang dipuja. Mereka saling mencintai, sekuat anggur yang memabukkan, setulus embun pagi. Namun, semua itu runtuh ketika Li Wei, sahabat baik Mei Hua, tiba-tiba mengklaim mengandung anak Pangeran Zhao. Mei Hua hancur. Dunia yang dulu berwarna cerah, berubah kelabu. Namun, Mei Hua tidak melawan. Ia tidak berteriak, tidak menangis, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya **DIAM**. Diam bukan karena lemah, tapi karena menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap. Rahasia tentang ramuan yang dikirimkan tabib istana padanya setiap malam, ramuan yang katanya untuk meningkatkan kesuburannya. Rahasia tentang perubahan sikap Pangeran Zhao yang tiba-tiba. Rahasia tentang *bisikan* Li Wei yang selalu meremehkannya. Mei Hua memilih undur diri. Ia membatalkan pertunangan, mengasingkan diri di paviliun terpencil di tepi Danau Xi. Orang-orang mengira ia patah hati. Mereka kasihan, bahkan mencemooh. Tapi, mereka tidak tahu, di balik tatapan kosong Mei Hua, bara dendam membara. Malam demi malam, Mei Hua mempelajari racun dan penawar. Ia mempelajari cara membaca gerak tubuh, cara mengendus kebohongan, cara memanipulasi orang lain. Ia menggunakan keahlian *guqin*-nya untuk mengirimkan pesan-pesan terselubung kepada para sekutu yang tersembunyi. Misteri mulai terkuak ketika Mei Hua menemukan surat rahasia di antara tumpukan buku kunonya. Surat itu berisi pengakuan Tabib Istana bahwa ia telah diperintah untuk memberikan ramuan kemandulan pada Mei Hua, atas perintah **SELIR XIAN**, ibu Pangeran Zhao. Selir Xian menginginkan Li Wei menjadi Putri Mahkota. Mei Hua tersenyum pahit. Dendamnya semakin membara. Ia tidak akan membunuh, tidak akan menyakiti secara fisik. Ia hanya akan membiarkan takdir bermain-main. Waktu berlalu. Pangeran Zhao menikahi Li Wei. Namun, istana dilanda intrik dan kekacauan. Li Wei ternyata mandul. Pangeran Zhao, yang sudah terpengaruh ramuan kemandulan yang dulu diberikan pada Mei Hua, juga tidak bisa memiliki keturunan. Kerajaan terancam tanpa pewaris. Selir Xian, yang dulunya penuh ambisi, kini pikun dan terlupakan. Li Wei, yang dulunya sombong, kini menjadi wanita yang penuh kepahitan. Pangeran Zhao, yang dulunya dicintai, kini menjadi pria yang kesepian. Mei Hua menyaksikan semua itu dari kejauhan, sambil memainkan *guqin*-nya di tepi Danau Xi. Ia tidak melakukan apa pun. Ia hanya menunggu. Ia tahu, takdir selalu memiliki cara sendiri untuk membalas dendam. Pada akhirnya, Pangeran Zhao meninggal tanpa meninggalkan pewaris. Tahta kerajaan jatuh ke tangan sepupunya yang jauh, yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan sebelumnya. Kekuasaan bergeser. Semua yang dulunya megah, hancur berkeping-keping. Mei Hua menutup matanya. Angin malam berdesir. Ia telah mendapatkan apa yang diinginkannya, tanpa menodai tangannya dengan darah. "Dendam terbalaskan, bukan dengan kematian, tapi dengan **KEHANCURAN MIMPI**." Kemudian, ia membuka mata dan menemukan secarik kain sutra di genggamannya. Kain itu beraroma familiar; aroma cendana dan ramuan herbal yang sangat dikenalnya. Di kain sutra itu tertulis sebuah pesan singkat yang membuatnya tertegun: "Bukan hanya Selir Xian..." Nafas Mei Hua tercekat, menyadari bahwa permainan yang ia kira telah selesai, ternyata baru saja dimulai...
You Might Also Like: Jualan Skincare Bisnis Sampingan

0 Comments: