Baiklah, ini dia kisah Dracin pendek berjudul 'Ia Mencintaiku Seperti Menyentuh Api — Hangat, Tapi Mematikan': **Ia Mencintaiku Seperti Menyentuh Api — Hangat, Tapi Mematikan** Debu jalanan Kota *Xi'an* terasa asing di bawah sepatu modernku. Namun, aroma bunga *mei* yang semerbak membangkitkan kenangan yang menusuk kalbu. Aku, Li Wei, seorang arsitek muda dari abad ke-21, merasa ditarik kembali ke masa lalu yang samar, mimpi-mimpi aneh tentang istana megah, jubah sutra, dan… pengkhianatan. Pria itu, Wang Zhao, memasuki hidupku seperti musim semi yang menjanjikan. Senyumnya menghangatkan, matanya memancarkan kepercayaan. Ia adalah klien terpenting di perusahaanku, pemilik galeri seni terkemuka dengan selera yang begitu... *kuno*. Ia sering menatapku dengan tatapan *misterius*, seolah mengenalku lebih lama dari yang seharusnya. Sentuhan Wang Zhao, *hangat* dan penuh perhatian, membuat jantungku berdebar. Ia mencintaiku, katanya. Namun, semakin dalam aku terjerat, semakin kuat pula bayangan-bayangan itu menghantuiku. Potongan-potongan memori— sebuah konspirasi, pedang yang berkilau di bawah cahaya bulan, wajah Wang Zhao yang menyeringai— perlahan menyatu. Aku bukan Li Wei semata. Aku adalah *Putri Huan Yu*, ahli waris Kekaisaran yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, *Jenderal Wang Zhao*. Ia merebut takhta dan meninggalkanku mati di altar dewa! Rasa *sakit* itu nyata, meski terjadi berabad-abad lalu. Balas dendam? Ya, aku menginginkannya. Namun, bukan dengan pedang atau racun. Aku akan menghancurkannya dengan cara yang lebih *halus*, lebih menyakitkan. Kesempatan itu datang. Wang Zhao memintaku merancang galeri barunya, sebuah proyek ambisius yang akan menjadi simbol kekuasaannya. Aku menerimanya dengan senyuman manis. Dalam desainku, aku menyisipkan satu perubahan kecil yang *krusial*. Sebuah cacat tersembunyi yang akan menghancurkan fondasi galerinya, bukan secara fisik, melainkan secara *ekonomi* dan *reputasi*. Pada malam pembukaan galeri, aku berdiri di samping Wang Zhao, menyaksikan impiannya mulai terwujud. Ia menggenggam tanganku, matanya berbinar. "Kau adalah keajaiban, Wei," bisiknya. Aku tersenyum. "Kita lihat saja nanti, Jenderal Wang." Ketika ia lengah, aku membisikkan mantra dalam *bahasa kuno*— kata-kata yang membangkitkan hukum karma. Saat Wang Zhao dengan bangga memamerkan galerinya, berita *MENGEJUTKAN* menyebar: lukisan-lukisan di galeri itu palsu! Skandal itu meluas, menghancurkan reputasinya dalam semalam. Wang Zhao menatapku dengan tatapan ngeri. Ia tahu. Ia tahu aku mengingatnya. Aku menatapnya dengan dingin. “Dulu, kau merebut takhtaku. Sekarang, aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.” Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Wang Zhao dalam reruntuhan mimpinya. Suara angin berdesir di telingaku, membawa bisikan masa lalu dan janji masa depan. *Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, Jenderal. Dan saat itu, aku akan memastikan kau tidak pernah lupa.*
You Might Also Like: Jual Skincare Anti Jerawat Dan Anti

0 Comments: