Pelukan yang Menyimpan Kebenaran
Aula Emas Istana Kekaisaran dipenuhi cahaya rembulan yang menerobos celah tirai sutra. Di sanalah, Kaisar Li Wei berdiri, gagah dalam jubah naga keemasannya. Namun, sorot matanya yang tajam mengkhianati kegelisahan di balik fasad kekuasaan. Di hadapannya, berdiri Permaisuri Mei Lian, anggun dan mempesona, bagaikan bunga teratai di tengah kolam yang tenang.
"Mei Lian," suara Li Wei berat, "Aku... aku telah mendengar desas-desus."
Mei Lian mengangkat kepalanya, tatapannya setenang danau di pagi hari. "Desas-desus? Desas-desus tentang apa, Yang Mulia?" Suaranya merdu, namun terdengar dingin.
Di balik tirai sutra, bisikan pengkhianatan terdengar sayup-sayup. Intrik dan perebutan kekuasaan adalah makanan sehari-hari di istana ini. Setiap senyum bisa menyembunyikan belati, setiap pelukan bisa menyembunyikan racun. Cinta dan kekuasaan—dua sisi mata uang yang sama, saling bertentangan, saling melengkapi.
Hubungan Li Wei dan Mei Lian adalah GAMBARAN sempurna dari pertentangan itu. Mereka saling mencintai, atau setidaknya, pernah saling mencintai. Tapi, di istana ini, cinta adalah permainan. Setiap janji adalah taruhan, setiap ciuman adalah strategi. Li Wei, sang Kaisar, membutuhkan keturunan untuk meneruskan tahta. Mei Lian, sang Permaisuri, membutuhkan kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.
Namun, Li Wei curiga. Desas-desus mengatakan bahwa Mei Lian bersekongkol dengan Pangeran Chen, adik laki-lakinya, untuk menggulingkannya. Pangeran Chen, ambisius dan haus kekuasaan, selalu membayangi tahta Li Wei.
"Aku mendengar," lanjut Li Wei, suaranya semakin berat, "bahwa kau… berhubungan dengan Chen."
Mei Lian tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Yang Mulia terlalu percaya pada desas-desus. Saya hanyalah seorang wanita yang mencintai suaminya, yang mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan Kerajaan."
Li Wei mendekat, meraih wajah Mei Lian dengan tangannya. Matanya menatap dalam-dalam mata sang Permaisuri, mencari kebenaran. "Jika itu benar, Mei Lian, maka kau harus membuktikannya."
Malam itu, Mei Lian mendatangi kamar Pangeran Chen. Di sana, di tengah bayangan lilin, mereka berbicara. Bukan tentang cinta, bukan tentang pengkhianatan, tetapi tentang KEADILAN.
"Sudah saatnya, Yang Mulia," kata Mei Lian, suaranya rendah namun tegas. "Ayahanda Kaisar membunuh seluruh keluargaku demi merebut tahta. Aku hanya berpura-pura mencintainya demi mendapatkan posisi ini."
Chen menatap Mei Lian dengan kagum. Ia tidak pernah menyangka wanita yang ia cintai ini menyimpan dendam sedalam itu.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Chen.
Mei Lian tersenyum. Senyum yang sekarang, benar-benar mencapai matanya. Senyum yang dingin, mematikan.
Beberapa bulan kemudian, Li Wei ditemukan tewas di kamarnya. Racun yang sangat langka ditemukan dalam cawan anggurnya. Pangeran Chen, sebagai pewaris sah, dinobatkan menjadi Kaisar baru.
Pada upacara penobatan, Kaisar Chen mendekati Mei Lian, yang berdiri anggun di sampingnya. "Terima kasih, Mei Lian," bisiknya. "Tanpa bantuanmu, aku tidak akan pernah bisa mencapai ini."
Mei Lian menatap Chen dengan tatapan datar. "Kau salah, Yang Mulia," jawabnya. "Aku tidak pernah melakukan ini untukmu."
Chen mengerutkan kening. "Lalu, untuk siapa?"
Mei Lian mendekat ke telinga Chen, berbisik. "Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Untuk membalaskan dendam keluargaku. Dan sekarang, tahta ini milikku."
Mata Chen membelalak. Ia baru menyadari bahwa ia hanyalah pion dalam permainan Mei Lian. Ia telah dibutakan oleh cinta, oleh kekuasaan, dan ia telah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh wanita yang dianggapnya lemah.
Mei Lian mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para penjaga. Dalam sekejap, Chen dikelilingi oleh pedang.
"Eksekusi," perintah Mei Lian, suaranya KERAS dan TEGAS.
Chen menatap Mei Lian dengan tatapan tak percaya, sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
Mei Lian berdiri tegak, di atas genangan darah Chen. Di sekelilingnya, para pejabat istana terdiam, menyaksikan kebangkitan seorang ratu yang BERBAHAYA.
Dengan dingin, Mei Lian mendeklarasikan, "Aku, Permaisuri Mei Lian, dengan ini menyatakan diriku sebagai Kaisar Kerajaan ini!"
Ia duduk di atas tahta naga, memandang ke arah kerumunan yang terpana. Di matanya, hanya ada KETERPUASAN dan KEKUATAN.
Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri… atau baru akan dimulai?
You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif
0 Comments: