Hujan berbisik di atas nisan abu-abu. Butir-butir air menari di atas ukiran nama Lin Wei, seolah mencoba menghapus debu kenangan yang terla...

Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Damai Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Damai

Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Damai

Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Damai

Hujan berbisik di atas nisan abu-abu. Butir-butir air menari di atas ukiran nama Lin Wei, seolah mencoba menghapus debu kenangan yang terlanjur melekat. Sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung sendiri terasa seperti gema di gua yang kosong. Aku berdiri di sini, atau lebih tepatnya, MELAYANG di sini, di antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat.

Aku Lin Wei. Atau dulunya Lin Wei. Kini, aku hanyalah bayangan, aroma lavender yang tiba-tiba hadir, atau bisikan angin di sela pepohonan bambu. Aku mati tanpa sempat mengucapkan kebenaran. Kebenaran yang membebani dadaku seberat batu nisan ini.

Dunia ini aneh dari sudut pandangku. Orang-orang berjalan, tertawa, menangis, TANPA melihatku. Aku mencoba menyentuh mereka, tetapi tanganku hanya menembus, bagai kabut pagi yang hilang ditelan matahari. Mereka hidup, sementara aku terjebak di antara hidup dan mati, terikat oleh janji yang belum terpenuhi.

Aku kembali bukan untuk balas dendam, meski bayang-bayang kecurigaan masih menari-nari di benakku. Aku kembali bukan untuk menuntut keadilan, karena keadilan sejati hanya ada di sisi Yang Maha Kuasa. Aku kembali untuk mencari… KEDAMAIAN.

Setiap malam, aku mengikuti Xiao Zhen, tunanganku. Matanya yang dulu berbinar kini redup, dipenuhi kesedihan yang tak terucapkan. Aku ingin memeluknya, menghapus air matanya, tetapi aku hanyalah roh. Hantu masa lalu yang tak bisa dijamah.

Aku mengamati setiap gerakannya, setiap interaksinya dengan orang-orang di sekelilingnya. Ada Li Cheng, sahabatku, yang selalu ada di sisinya. Terlalu ada. Tatapannya, meskipun penuh simpati, terasa aneh. MENCURIGAKAN. Aku melihat percakapan mereka, mendengar bisikan-bisikan yang disembunyikan. Kepingan-kepingan puzzle mulai tersusun, membentuk gambaran yang mengerikan.

Semakin dekat aku dengan kebenaran, semakin berat rasanya. Aku melihat kebohongan yang terjalin rapi, pengkhianatan yang menikam dari belakang. Ternyata, kematianku bukanlah kecelakaan seperti yang diberitakan. Ada konspirasi, ada rencana jahat yang dirancang dengan cermat.

Namun, di tengah badai amarah dan kekecewaan, aku menemukan sesuatu yang lebih penting. Aku melihat ketulusan di mata Xiao Zhen. Aku melihat bagaimana ia berjuang untuk tetap tegar, meski hatinya hancur berkeping-keping. Aku melihat bagaimana ia tetap mencintaiku, meski aku telah tiada.

Malam itu, di bawah rembulan pucat, aku membawa Xiao Zhen ke tempat rahasia kami, di tepi sungai yang mengalir tenang. Di sana, di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang aku sembunyikan. Di dalamnya, ada surat dan kalung lavender kesukaannya.

Dalam surat itu, aku mengakui segala ketakutanku, segala keraguanku tentang masa depan. Aku juga mengungkapkan betapa besar cintaku padanya, cinta yang akan tetap abadi, meski maut memisahkan.

Saat Xiao Zhen membaca surat itu, air matanya mengalir deras. Aku bisa merasakan beban di hatinya perlahan terangkat. Aku melihat senyum tipis merekah di bibirnya, senyum yang selama ini kurindukan. Senyum yang menandakan… KEBEBASAN.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhku terasa ringan, bagai bulu yang diterbangkan angin. Pandanganku mengabur, seolah aku akan menghilang ditelan kegelapan. Akhirnya, aku mengerti. Mencari kebenaran bukan berarti mencari balas dendam. Mencari kebenaran berarti membebaskan jiwa yang terbelenggu. Membebaskan diri dari dendam dan amarah. Membebaskan Xiao Zhen dari kesedihan.

Aku tidak menemukan balas dendam, namun aku menemukan kedamaian. Kedamaian yang selama ini kurindukan.

Kemudian, aku melihat Xiao Zhen tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang mengantarku...

You Might Also Like: 200 Every Borderlands Game Ranked

0 Comments: