Senandung Guqin di Malam Kelabu Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Aku berdiri di dermaga, menatap kapal-kapal yang berlayar menjauhi kot...

Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku

Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku

Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku

Senandung Guqin di Malam Kelabu

Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Aku berdiri di dermaga, menatap kapal-kapal yang berlayar menjauhi kota. Dulu, kota ini adalah panggung impianku. Sekarang, hanya kenangan pahit yang tersisa.

Lima tahun lalu, aku, Lin Mei, adalah bintang yang bersinar terang di dunia mode. Model papan atas, dikelilingi kemewahan dan pujian. Tapi semua itu palsu. Di balik gemerlapnya lampu sorot, ada pengkhianatan yang menggerogoti hatiku.

Zhang Wei, kekasihku, sekaligus manajerku. Dialah yang mengukir namaku, menempatkanku di puncak. Tapi dia juga yang menjatuhkanku. Dengan dingin, dia merebut semua milikku – kontrak, reputasi, bahkan sahabatku, Xia Li.

Aku tahu, mereka bersekongkol. Aku tahu, ada rencana besar di balik senyum manis Xia Li dan tatapan memuja Zhang Wei. Tapi aku memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena aku menyimpan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan mereka berdua.

Aku tahu apa yang mereka lakukan pada AYAHKU.

Rahasia itu terukir dalam sebuah buku tua, warisan dari mendiang kakekku – seorang tabib terkenal di pedesaan. Buku itu berisi ramuan kuno, obat-obatan terlarang, dan yang terpenting: daftar nama. Nama-nama orang yang berhutang nyawa pada kakekku. Nama Zhang Wei dan ayah Xia Li ada di sana. Mereka berhutang BUDI pada kakekku.

Aku bisa saja membeberkan semuanya. Membuat mereka hancur seketika. Tapi aku tidak mau mengotori tanganku. Aku percaya, takdir punya cara sendiri untuk membalas dendam.

Lalu, kamu datang, Li Wei.

Seorang fotografer biasa, dengan senyum yang mampu menembus kabut hatiku. Kamu melihat luka yang kubuat, kamu menyembuhkannya dengan sabar. Kamu tidak tahu apa-apa tentang masa laluku, tentang pengkhianatan itu. Kamu hanya melihatku.

Senyummu, Li Wei, menjadi kompas di tengah badai hidupku.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar tentang Zhang Wei dan Xia Li. Karier mereka meredup. Proyek demi proyek gagal. Mereka terlilit hutang, kehilangan segalanya. Konon, investasi mereka di luar negeri lenyap begitu saja. Anehnya, nama-nama investor itu sama persis dengan nama-nama di daftar kakekku.

Takdir, memang penuh ironi.

Suatu malam, di bawah rembulan pucat, Li Wei bertanya padaku, "Mei, kenapa kamu selalu menatap langit malam?"

Aku tersenyum, menatap matanya yang teduh. "Dulu, aku mencari bintang. Sekarang… aku hanya mencari dirimu."

Aku tidak mengatakan apa pun tentang buku tua itu, tentang daftar nama, tentang bagaimana aku diam-diam menggerakkan bidak catur takdir. Aku tidak perlu melakukan apa-apa.

Zhang Wei dan Xia Li tidak pernah tahu, bahwa kejatuhan mereka bukan hanya kesialan belaka. Mereka tidak tahu, bahwa setiap ramuan memiliki efek samping, setiap budi memiliki harga yang harus dibayar.

Saat mentari pagi mulai menyingsing, aku merasakan hembusan angin dingin menusuk tulang. Li Wei memelukku erat.

Aku berbisik, "Kau tahu, sayang... mungkin kebahagiaan kita dibangun di atas puing-puing kesedihan orang lain..."

Tapi Li Wei tidak mendengarku. Ia terlalu sibuk mencium rambutku. Dan aku, aku hanya bisa memejamkan mata, menyerap kehangatan cintanya, sambil bertanya-tanya… akankah karma ini mengejarku di kehidupan selanjutnya?

You Might Also Like: Dracin Seru Aku Menjadi Notifikasi Hati

0 Comments: