## Janji yang Kumasak Dalam Api Dendam Bulan sabit menggantung rendah di atas Kota Terlarang, memandangi dengan dingin dua siluet yang berdi...

Cerpen Terbaru: Janji Yang Kumasak Dalam Api Dendam Cerpen Terbaru: Janji Yang Kumasak Dalam Api Dendam

Cerpen Terbaru: Janji Yang Kumasak Dalam Api Dendam

Cerpen Terbaru: Janji Yang Kumasak Dalam Api Dendam

## Janji yang Kumasak Dalam Api Dendam Bulan sabit menggantung rendah di atas Kota Terlarang, memandangi dengan dingin dua siluet yang berdiri di balkon marmer. Mei Ling, dengan gaun sutra merah darah yang berkilauan, dan Hua Cheng, berpakaian jubah hitam yang menyerap cahaya rembulan. Dulu, mereka adalah bunga kembar yang tumbuh di satu tangkai, saudara seperguruan, sahabat sejati. Sekarang, jarak di antara mereka lebih lebar dari jurang Neraka. "Hua Cheng," desis Mei Ling, suaranya selembut sutra namun setajam belati. "Sudah lama sekali. Kau ingat janji kita, di bawah pohon *Shanshui* saat salju pertama turun?" Hua Cheng mengangguk, matanya gelap seperti jurang yang tak berdasar. "Aku ingat setiap kata. Setiap bisikan. Setiap... *kebohongan*." Malam itu, di bawah pohon *Shanshui* yang berbalut salju, mereka bersumpah akan setia selamanya. Mei Ling akan menjadi permaisuri, dan Hua Cheng, tangan kanannya, akan memastikan tahta itu aman. Janji yang diikat dengan darah, janji yang kini terbakar menjadi bara dendam. "Kebohongan? Bukankah *kau* yang menikamku dari belakang, Hua Cheng?" tanya Mei Ling, suaranya bergetar menahan amarah yang membara. "Kau yang membocorkan rencanaku pada Kaisar. Kau yang membuat Ayahku dijatuhi hukuman mati!" Hua Cheng tertawa, suara tanpa humor yang membekukan tulang. "Kau polos sekali, Mei Ling. Kau pikir Ayahmu tidak tahu bahwa kau diam-diam bersekutu dengan Klan Selatan? Dia tahu segalanya. *Aku* yang memberitahunya." Dada Mei Ling terasa sesak. Kebenaran itu menghantamnya seperti badai. Selama ini, dia percaya Hua Cheng mengkhianatinya, padahal Hua Cheng justru melindunginya. Ayahnya, Kaisar yang lalim, akan menghukum mati seluruh keluarganya jika ia tahu persekongkolan itu. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" air mata mengalir di pipi Mei Ling. "Untuk melindungimu, bodoh," jawab Hua Cheng dingin. "Aku tahu, kau tidak akan berhasil. Kau terlalu naif untuk permainan ini. Lebih baik Ayahmu yang dihukum daripada melihatmu dan keluargamu binasa." Mei Ling terhuyung mundur. Selama bertahun-tahun, dia memendam dendam, menyusun rencana balas dendam yang sempurna. Dia telah mengumpulkan kekuatan, menguasai ilmu racun mematikan, dan sekarang, dia berdiri di sini, siap untuk menghancurkan orang yang dia cintai, orang yang telah *menyelamatkannya*. "Jadi... semua ini..." Mei Ling menggantungkan kalimatnya, berusaha mencerna kebenaran yang pahit. "Semua pengkhianatan, semua rencana balas dendam, semua... *salah paham*?" Hua Cheng mengangguk, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Dendam adalah makanan yang paling baik disajikan dingin. Dan aku sudah memasaknya untukmu selama bertahun-tahun, Mei Ling. Sekarang, makanlah hidanganmu." Mei Ling menarik napas dalam-dalam, mencium aroma dupa dan kematian yang memenuhi udara. Dia membuka kipasnya, menampilkan bilah-bilah tajam yang tersembunyi di baliknya. "Maka, mari kita menari dalam kobaran api ini, Hua Cheng. Mari kita lihat siapa yang terbakar lebih dulu." Mereka menyerang, dua siluet yang menari dalam kematian. Setiap gerakan adalah permainan mematikan, setiap desisan pedang adalah bisikan masa lalu. Dendam dan cinta berbaur menjadi koktail mematikan yang akan menghancurkan mereka berdua. Di akhir, mereka berlutut, berlumuran darah, saling berhadapan. Mata Hua Cheng menatap Mei Ling dengan penyesalan. "Aku selalu... mencintaimu... lebih dari diriku sendiri..." bisik Hua Cheng, darah mengalir dari mulutnya. "Tapi... kau... tidak akan pernah... mengerti..." Mei Ling menatap mayat Hua Cheng, air mata mengalir tanpa henti. Dia mengkhianatinya dengan kebenciannya sendiri. Kebenaran yang menyakitkan itu menghancurkan hatinya. Dia telah membalas dendam, tapi balas dendam itu memakannya hidup-hidup. Mei Ling terhuyung berdiri, matanya kosong. Dia menatap bulan yang bersinar dingin, lalu berbisik, "*Mungkin... di kehidupan selanjutnya... kita bisa menjadi... orang asing saja*."
You Might Also Like: Cari Skincare Aman Ini Yang Teruji

0 Comments: