**Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku** Embun pagi menyapa Kota Shanghai, menyelimuti jalanan dengan kabut tipis. Dari balik jendela apartemen minimalis, Awan (云) memandanginya. Pikirannya melayang, dipenuhi suara bariton familiar yang baru saja ia dengar di podcast. Suara itu milik Liam (黎安), mantan kekasihnya. "Kisah ini tentang seorang gadis," Liam memulai, suaranya hangat dan menenangkan, "Seorang gadis yang mengubah hidupku, membantuku meraih mimpi. Ia adalah inspirasiku." Awan tersenyum pahit. _Inspirasi_. Ia adalah inspirasi Liam? Ironis. Karena selama ini, ia hidup dalam bayang-bayang Liam, merelakan mimpinya demi mendukung ambisi pria itu. Ia berkorban, dan sebagai balasannya, ia dihapus dari sejarah. Nama Awan tak disebut. Kisahnya dipoles, dibungkus dengan kebohongan manis yang membuat pendengar terpesona. Liam, si pemuda berbakat, si jenius musik, si bintang yang bersinar terang, dan Awan? Awan hanyalah fragmen masa lalu yang dilupakan. *** Awan menyesap tehnya, aroma melati memenuhi indranya. Ia memutuskan untuk mencari kebenaran. Bukan kebenaran yang diumbar di podcast, melainkan kebenaran yang tersembunyi di balik senyum Liam, di balik gemerlap panggung, di balik **KEBOHONGAN**. Setiap hari, Awan mendengarkan podcast itu berulang-ulang, mencari celah, mencari inkonsistensi. Ia mulai menggali masa lalu mereka, menghubungi teman-teman lama, mengumpulkan bukti. Setiap potongan informasi yang ia dapatkan, seperti pecahan kaca yang menusuk hatinya. Liam telah membangun citra dirinya di atas reruntuhan mimpinya. Ia memanen pujian, ketenaran, dan kekayaan, sementara Awan berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Rasa sakit, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu, membentuk sebuah tekad yang membara. *** Konflik mencapai puncaknya saat Awan diundang sebagai bintang tamu di sebuah acara talkshow. Topiknya? Industri musik dan peran inspirasi dalam karya seni. Awan tersenyum tipis, menyadari ironi situasi ini. 主持人 (Host) bertanya, "Awan, banyak yang mengatakan bahwa pengalaman pribadi adalah sumber inspirasi terbesar. Apa pendapatmu?" Awan menarik napas dalam. Matanya bertemu dengan kamera, menembus layar televisi dan mungkin, menyentuh Liam yang menonton di suatu tempat. "Pengalaman pribadi memang penting," jawab Awan, suaranya tenang namun tegas. "Tetapi, penting juga untuk memberikan kredit yang pantas kepada orang yang benar-benar berjasa. Terkadang, kita melihat seseorang bersinar terang, namun lupa bahwa di balik cahayanya, ada seseorang yang rela meredup untuk memberikannya ruang." Ia melanjutkan, menceritakan kisah tentang seorang gadis yang merelakan mimpinya, tentang pengorbanan yang tak dihargai, tentang kebohongan yang menyakitkan. Ia tak menyebut nama, tapi semua orang tahu siapa yang ia maksud. *** Liam terdiam di depan layar televisi. Wajahnya pucat pasi. Kebohongan yang ia bangun dengan susah payah, hancur berkeping-keping dalam satu malam. *REPUTASINYA* remuk. Balas dendam Awan tidak berteriak, tidak berdarah, tidak menyakitkan secara fisik. Balas dendamnya adalah kebenaran. Balas dendamnya adalah mengungkap Liam di depan dunia. Balas dendamnya adalah keheningan yang menyusul, keheningan yang lebih memekakkan telinga daripada ribuan kata. Awan tersenyum. Senyum yang menyimpan perpisahan. Senyum yang mengakhiri segalanya. *** Beberapa bulan kemudian, Awan meluncurkan sebuah buku. Sebuah memoar yang menceritakan kisah hidupnya, kisah cintanya yang pahit, dan kebangkitannya dari keterpurukan. Di halaman terakhir, ia menulis: "Apakah ia akan pernah mengakui kebenaran yang sebenarnya, atau akan terus hidup dalam kebohongannya sendiri?"
You Might Also Like: Seru Sih Ini Aku Adalah Dosa Yang Ia

0 Comments: