Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Malam itu, salju turun dengan ganasnya di atas Paviliun Bulan. Angin menggeram, me...

Bikin Penasaran: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun Bikin Penasaran: Kau Menatapku Dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Kau Menatapku dengan Cinta, Tapi Cinta Itu Kini Beracun

Malam itu, salju turun dengan ganasnya di atas Paviliun Bulan. Angin menggeram, menyayat kulit seperti belati dingin, sama dinginnya dengan tatapan Xu Mei Hua pada pria di hadapannya. Li Wei, pria yang dulu menjadi mataharinya, kini hanya bayangan redup di bawah rembulan yang muram.

"Wei Gege," bisiknya, suaranya serak dan bergetar. Asap dupa mengepul di antara mereka, wangi cendana yang dulu menenangkan, kini terasa menyesakkan. "Kau menatapku dengan cinta... dulu. Tapi cinta itu kini beracun."

Li Wei tidak menjawab. Matanya, yang dulu penuh kehangatan saat menatap Mei Hua, kini bagai danau beku. Di wajah tampannya terukir garis-garis keras, bekas rahasia yang tak terucapkan, dosa yang tak terampuni.

Dulu, mereka adalah dua jiwa yang terikat oleh janji suci di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Janji untuk saling melindungi, untuk saling mencintai hingga akhir hayat. Namun, waktu merenggut semua itu. Perlahan tapi pasti, kebahagiaan mereka terkikis oleh badai intrik istana, ambisi keji, dan pengkhianatan yang meremukkan hati.

"Kau ingat malam itu, Wei Gege?" Mei Hua melanjutkan, air mata mulai mengalir di pipinya, membeku menjadi kristal es di bawah cahaya rembulan. "Malam di mana darah mewarnai salju menjadi merah? Malam di mana janji kita terbakar menjadi abu?"

Bayangan ngeri melintas di mata Li Wei. Malam itu, malam di mana ayah Mei Hua, seorang jenderal besar yang setia, difitnah dan dieksekusi atas tuduhan palsu pengkhianatan. Li Wei, saat itu seorang pangeran yang haus kekuasaan, membiarkannya terjadi. Ia tahu ayah Mei Hua adalah satu-satunya yang bisa menghalangi jalannya menuju tahta.

"Kau... kau tahu kebenaran, Wei Gege. Kau tahu ayahku tidak bersalah!" teriak Mei Hua, suaranya memecah keheningan malam.

Li Wei akhirnya membuka mulutnya. "Aku... aku terpaksa. Aku harus melakukan apa yang kulakukan."

"TERPAKSA?!" Mei Hua tertawa hambar. "Kau memilih kekuasaan di atas cintaku! Kau memilih tahta di atas nyawa ayahku! Dan sekarang, kau berdiri di hadapanku, memohon ampun?"

Mei Hua mengangkat tangannya, memperlihatkan belati perak yang berkilauan di bawah cahaya rembulan. Belati itu, dulunya hadiah dari Li Wei, kini akan menjadi alat penebusan dosanya.

"Cinta yang beracun harus dimusnahkan, Wei Gege."

Tidak ada perlawanan. Li Wei memejamkan matanya, membiarkan Mei Hua mendekat. Ia tahu ia pantas mendapatkan ini. Ia tahu ia telah menghancurkan hati wanita yang paling dicintainya.

Dengan gerakan tenang namun mematikan, Mei Hua menusukkan belati itu ke jantung Li Wei. Tidak ada jeritan, hanya desahan lirih yang tertahan. Li Wei membuka matanya, menatap Mei Hua dengan sisa-sisa cinta yang masih membara.

"Aku... mencintaimu..." bisiknya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Mei Hua mencabut belati itu, membiarkan tubuh Li Wei tergeletak di atas salju yang memerah. Ia menatap mayat pria yang dulu dicintainya, pria yang kini menjadi korbannya. Balas dendam telah dituntaskan. Hatinya yang terluka kini terasa... kosong.

Ia berbalik, berjalan menjauh dari Paviliun Bulan, meninggalkan jejak kaki berdarah di atas salju. Ia telah membalas dendam atas kematian ayahnya, atas pengkhianatan Li Wei. Tapi, harga yang harus dibayarnya terlalu mahal. Kebahagiaannya telah direnggut, hatinya telah membeku.

Saat mentari pagi mulai merekah di ufuk timur, menerangi salju yang berlumuran darah, Mei Hua menghilang ke dalam kabut. Dendamnya telah terbalaskan, tetapi jiwanya selamanya akan dihantui oleh malam itu... malam di mana cinta berubah menjadi racun yang mematikan.

Dan bisikan angin membawa kabar, bahwa sang ratu yang baru naik tahta, tidak pernah benar-benar tersenyum.

You Might Also Like: 191 Transform Your Smile In 2023 Top

Hembusan angin malam membawa aroma melati dan darah. Mei Lan, dengan rambut sehitam malam dan mata setajam belati, berdiri di tepi Danau Bu...

Drama Abiss! Cinta Yang Menuntut Darah Drama Abiss! Cinta Yang Menuntut Darah

Hembusan angin malam membawa aroma melati dan darah. Mei Lan, dengan rambut sehitam malam dan mata setajam belati, berdiri di tepi Danau Bulan. Di bawahnya, bayangan bulan menari-nari, serupa kenangan yang berkabut. Ia merasakan sentuhan dingin di lehernya, bukan dari angin, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

Mei Lan, seorang desainer interior muda di Shanghai modern, kerap dihantui mimpi aneh tentang pedang berlumuran darah, istana megah yang terbakar, dan seorang pria dengan senyum sehangat matahari namun mata sedingin es. Mimpinya begitu nyata, ia bisa merasakan panasnya api dan dinginnya baja.

Suatu hari, saat mengunjungi pameran barang antik, matanya terpaku pada lukisan seorang wanita berpakaian sutra merah, berdiri di depan istana yang sama dengan yang ada dalam mimpinya. Di bawah lukisan, tertulis nama: Lian Hua. Jantung Mei Lan berdebar kencang. Lian Hua... Aku kah itu?

Sejak saat itu, potongan-potongan kenangan masa lalu mulai bermunculan. Ia ingat dirinya, Lian Hua, putri mahkota yang dicintai seluruh negeri. Ia ingat Lin Wei, pangeran dari kerajaan tetangga yang menawan hatinya. Ia ingat janji-janji manis di bawah pohon sakura yang bermekaran.

Namun, kenangan tergelap adalah pengkhianatan. Lin Wei, yang seharusnya menjadi suaminya, justru bersekongkol dengan musuh untuk merebut kerajaannya. Lian Hua menyaksikan istananya terbakar, keluarganya dibantai, dan dirinya ditikam oleh tangan yang ia cintai. Pengkhianatan itu MEMBUNUHNYA.

Di kehidupan ini, takdir mempertemukan Mei Lan dengan seorang arsitek muda bernama Wei Lin, yang wajahnya nyaris identik dengan Lin Wei. Awalnya, Mei Lan berusaha menghindarinya, takut terulang kembali siklus pengkhianatan. Namun, Wei Lin gigih mengejarnya, membanjiri Mei Lan dengan perhatian dan pujian.

Mei Lan tahu, ini adalah kesempatan kedua. Wei Lin memang mewarisi wajah Lin Wei, tetapi ia tidak mewarisi takdirnya. Ia masih memiliki PILIHAN.

Suatu malam, saat mereka makan malam romantis di sebuah restoran mewah, Wei Lin menawarkan Mei Lan pekerjaan impiannya: mendesain ulang seluruh interior vila mewah miliknya, proyek yang akan melambungkan karir Mei Lan ke puncak. Mei Lan tersenyum tipis. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.

"Wei Lin," ucap Mei Lan, suaranya lembut namun menusuk, "Aku menerima tawaranmu. Tapi, ada satu syarat."

Wei Lin menatapnya dengan penuh tanya.

"Aku ingin mengubah seluruh konsep vila itu. Dari awal. Termasuk, menghancurkan semua elemen yang ada saat ini dan membangunnya dari nol."

Wei Lin terkejut, namun kemudian tertawa. "Tentu saja! Lakukan apa pun yang kau inginkan, Mei Lan. Aku percaya padamu."

Mei Lan tahu, menghancurkan vila itu bukan hanya tentang desain interior. Itu adalah simbol penghancuran kerajaan Lin Wei di masa lalu. Itu adalah caranya membalas dendam, bukan dengan darah, melainkan dengan menghapus seluruh jejaknya dari muka bumi.

Di balik senyum manisnya, Mei Lan menyimpan kepuasan yang tersembunyi. Ia telah membalikkan takdirnya. Ia tidak lagi menjadi korban. Ia adalah arsitek takdirnya sendiri.

Saat Wei Lin memeluknya erat, Mei Lan menatap langit malam. "Di kehidupan selanjutnya, mungkin... mungkin kita bisa bertemu dalam keadaan yang berbeda."

Darahku menunggumu, seribu tahun kemudian...

You Might Also Like: Cerpen Keren Langit Yang Tak Lagi

Pedang yang Menyala Saat Mereka Bertemu Lentera-lentera terapung di permukaan Danau Bulan, memancarkan cahaya kemerahan yang menari-nari d...

Dracin Populer: Pedang Yang Menyala Saat Mereka Bertemu Dracin Populer: Pedang Yang Menyala Saat Mereka Bertemu

Pedang yang Menyala Saat Mereka Bertemu

Lentera-lentera terapung di permukaan Danau Bulan, memancarkan cahaya kemerahan yang menari-nari di atas air. Di dunia nyata, dunia manusia, itu hanyalah pemandangan indah. Namun, di dunia roh, setiap lentera adalah bisikan jiwa yang hilang, danau itu sendiri adalah memori yang tak terhapuskan.

Lin Yue, seorang pemuda dengan tatapan sayu dan rambut sehitam malam, berdiri di tepi danau. Ia bukan bagian dari dunia ini, atau begitulah yang ia kira. Ia ingat kematiannya, jatuh dari tebing di dunia lamanya, dunia tanpa sihir. Lalu, ia terbangun di sini, di dunia yang terbagi dua: dunia manusia yang fana, dan dunia roh yang abadi.

Di dunia roh, bayangan memiliki suara. Bayangan Lin Yue sendiri sering berbicara, memberikan petunjuk samar yang membuat kepalanya berdenyut. "Kau dicari, Nak. Pedang itu menunggu," bisiknya.

Lin Yue tidak mengerti. Ia hanya tahu bahwa ia harus menemukan pedang. Pedang yang menyala saat mereka bertemu. Ia bertemu dengan Bai Lian, seorang roh yang anggun dengan mata seindah giok. Bai Lian adalah penjaga Danau Bulan, dan ia TAHU lebih dari yang ia katakan.

"Dunia ini terancam," kata Bai Lian suatu malam, saat bulan purnama memandangi mereka dari langit. "Gerbang antara dunia manusia dan dunia roh semakin tipis. Kegelapan akan merayap masuk, jika kita tidak menghentikannya."

Lin Yue merasakan getaran aneh di dadanya. Sebuah kekuatan yang tertidur lama mulai bangkit. Saat ia menyentuh gagang pedang tua yang tergeletak di dasar Danau Bulan, pedang itu MEMBARA.

Api, menyala bukan karena sihir, tapi karena emosi. Karena Lin Yue, seorang manusia yang mati, adalah reinkarnasi dari seorang Dewa Pedang yang legendaris. Kematiannya di dunia lama bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah TAKDIR.

Bulan, saksi bisu dari ribuan tahun, mengingat namanya. Lin Yue. Nama yang tertulis di bintang-bintang, nama yang akan menyelamatkan dua dunia.

Perjalanan Lin Yue dipenuhi pertempuran, pengkhianatan, dan cinta yang membingungkan. Apakah Bai Lian mencintainya, atau hanya memanfaatkannya? Apakah Raja Roh, sosok yang berjanji akan melatihnya, tulus atau memiliki agenda tersembunyi?

Semakin dalam ia menyelam ke dalam takdirnya, semakin ia menyadari bahwa realitas dan mimpi telah bertukar tempat. Siapa yang benar, siapa yang salah? Jawabannya tersembunyi di balik topeng para dewa, di dalam bisikan bayangan, di antara nyala api pedang.

Di akhir perjalanan panjang, Lin Yue menemukan kebenaran yang pahit. Raja Roh, yang selama ini ia percayai, adalah dalang di balik semua kekacauan. Ia ingin menghancurkan dunia manusia dan dunia roh, untuk menciptakan dunia baru yang hanya ia kuasai. Dan Bai Lian… Bai Lian selalu mencintainya, sejak pertama kali mata mereka bertemu. Ia mengorbankan segalanya untuk melindunginya.

Dengan pedang yang menyala di tangannya, Lin Yue menghadapi Raja Roh. Pertempuran itu mengguncang dua dunia. Pada akhirnya, cinta dan pengorbanan mengalahkan kegelapan. Raja Roh dikalahkan, gerbang antara dua dunia ditutup, dan keseimbangan dipulihkan.

Namun, Lin Yue tidak bisa kembali ke dunia lamanya. Ia terikat pada dunia ini, pada takdirnya. Ia memilih untuk tetap tinggal, menjaga keseimbangan, dan mencintai Bai Lian.

"Namun, takdir mereka masih terjalin..."

Akan kah cinta mereka menjadi akhir ataukah pengulangan sejarah?

You Might Also Like: Jualan Kosmetik Penghasilan Tambahan

Pedang yang Menutup Kisah Dunia Bulan sabit menggantung rendah di atas Paviliun Angin Tenang. Di dalam, Li Wei, dengan jubah putih usang, ...

Cerita Seru: Pedang Yang Menutup Kisah Dunia Cerita Seru: Pedang Yang Menutup Kisah Dunia

Pedang yang Menutup Kisah Dunia

Bulan sabit menggantung rendah di atas Paviliun Angin Tenang. Di dalam, Li Wei, dengan jubah putih usang, memetik guqinnya. Nadanya lirih, seolah merangkai benang-benang kesedihan yang tak berujung. Setiap gesekan senar adalah bisikan penyesalan, sebuah melodi yang hanya dimengerti oleh malam dan hatinya yang remuk.

Lima tahun lalu, Li Wei adalah putra kebanggaan Sekte Gunung Tian. Bakatnya dalam ilmu pedang dielu-elukan, dan pernikahannya dengan Mei Lin, putri pemimpin sekte, dinantikan semua orang. Namun, di malam sebelum pernikahan, semua runtuh. Mei Lin ditemukan berpelukan dengan sahabat Li Wei, Zhang Yuan. Pengkhianatan itu seperti racun yang menjalar, membakar habis semua yang Li Wei cintai.

Anehnya, Li Wei tidak marah. Tidak ada teriakan, tidak ada pedang yang terhunus. Ia hanya tersenyum pahit, lalu pergi. Ia meninggalkan Gunung Tian, meninggalkan kekayaan, kehormatan, dan wanita yang dicintainya.

Sejak saat itu, Li Wei mengasingkan diri di Paviliun Angin Tenang. Ia menjadi seorang ronin, seorang pendekar tanpa tuan, menghabiskan hari-harinya dengan bermain guqin dan merenung. Orang-orang menganggapnya lemah, pengecut. Mereka berbisik tentang bagaimana patah hatinya telah meruntuhkan semangat juangnya. Namun, mereka SALAH BESAR.

Li Wei memilih diam bukan karena ia tidak mampu membalas dendam. Ia diam karena ia menyimpan sebuah RAHASIA. Sebuah rahasia yang, jika terungkap, akan mengguncang seluruh dunia persilatan.

Lima tahun lalu, sebelum pengkhianatan Mei Lin terungkap, Li Wei secara tidak sengaja menemukan sebuah gulungan kuno di perpustakaan terlarang Gunung Tian. Gulungan itu berisi peta menuju Pedang Penghancur Dunia, sebuah artefak legendaris yang konon mampu mengendalikan takdir.

Li Wei menyadari, jika pedang itu jatuh ke tangan yang salah, dunia akan berada dalam bahaya besar. Dan ia memiliki firasat buruk tentang siapa yang menginginkannya.

Selama lima tahun ini, Li Wei tidak hanya meratapi nasib. Ia mengasah guqinnya menjadi senjata yang mematikan, menyempurnakan teknik pernapasan kuno yang ia pelajari dari gulungan itu, dan mengamati gerak-gerik Zhang Yuan dan Mei Lin.

Semakin lama ia mengamati, semakin jelaslah segalanya. Pengkhianatan mereka BUKANLAH cinta sejati. Itu adalah rencana yang dirancang dengan cermat untuk menyingkirkan Li Wei dan mendapatkan peta menuju Pedang Penghancur Dunia.

Ternyata, Mei Lin adalah mata-mata dari Sekte Bulan Darah, sebuah organisasi jahat yang haus kekuasaan. Zhang Yuan, yang selama ini dianggap sahabat, adalah kaki tangannya.

Pada malam bulan purnama, Li Wei merasakan kekuatan yang berbeda dari guqinnya. Kekuatan itu resonansi dengan bintang-bintang, dengan takdir. Ia tahu, waktunya telah tiba.

Ia meninggalkan Paviliun Angin Tenang, tidak membawa pedang, hanya guqinnya. Ia berjalan menuju Gunung Tian, bukan untuk membalas dendam secara langsung, tetapi untuk memastikan pedang itu tidak jatuh ke tangan yang salah.

Di puncak Gunung Tian, ia berhadapan dengan Mei Lin dan Zhang Yuan, yang sudah menunggu dengan pasukan Sekte Bulan Darah. Pertempuran sengit terjadi. Namun, Li Wei tidak bertarung dengan pedang. Ia bertarung dengan guqinnya. Nada-nada yang ia hasilkan melumpuhkan musuh, membelokkan pedang, dan menciptakan ilusi yang membingungkan.

Akhirnya, Mei Lin dan Zhang Yuan berhasil dikalahkan, tetapi mereka menolak menyerah. Mereka mencoba mengambil peta dari Li Wei, tetapi ia sudah menghancurkannya.

"Kau pikir dengan menghancurkan peta, kami akan menyerah?" Mei Lin tertawa sinis. "Kami sudah tahu lokasi Pedang Penghancur Dunia. Kau hanyalah penghalang kecil."

Li Wei tersenyum tipis. "Kalian salah. Aku bukan penghalang. Aku adalah KUNCI."

Ia memainkan nada terakhir di guqinnya. Nada yang membangkitkan kekuatan kuno, kekuatan yang tersembunyi di dalam pedang itu sendiri. Kekuatan yang menolak untuk diperintah oleh orang yang memiliki hati yang gelap.

Tiba-tiba, tanah bergetar. Langit bergemuruh. Pedang Penghancur Dunia muncul dari dalam tanah, tidak di tangan Mei Lin atau Zhang Yuan, tetapi di tangan... tidak seorang pun. Pedang itu melayang di udara, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.

Lalu, dengan kecepatan yang luar biasa, pedang itu melesat, menebas Mei Lin dan Zhang Yuan dalam sekejap. Tidak ada jeritan, tidak ada perlawanan. Mereka lenyap, seolah tidak pernah ada.

Pedang Penghancur Dunia, setelah menunaikan tugasnya, menghilang kembali ke dalam tanah, meninggalkan Li Wei sendirian di puncak Gunung Tian, di bawah cahaya bulan purnama.

Ia telah membalas dendam, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan membiarkan takdir berbalik arah. Ia telah melindungi dunia, bukan dengan kekuatan, tetapi dengan pengetahuan dan kesabaran.

Li Wei memandang langit. Ia tahu, kisah ini belum berakhir. Masih banyak ancaman di luar sana. Masih banyak rahasia yang harus ia jaga.

Ia berbalik, dan berjalan menjauh, meninggalkan Gunung Tian untuk selamanya. Ia adalah Li Wei, penjaga rahasia, bukan lagi seorang pendekar, tetapi seorang bayangan yang akan selalu melindungi dunia dari kegelapan.

Dan di belakangnya, angin berbisik, membawa serta sepotong pertanyaan yang tak terjawab: Apakah ia benar-benar menghancurkan peta, atau masih ada sepotong kecil yang ia simpan untuk dirinya sendiri…?

You Might Also Like: Do Chickens Snack On Spiders And 166 Do

Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis Bab 1: Lentera di Air Mata Bulan Di dunia manusia, aku hanyalah Lin Yi, seorang pelukis yang hi...

Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

Bab 1: Lentera di Air Mata Bulan

Di dunia manusia, aku hanyalah Lin Yi, seorang pelukis yang hidup dalam kesunyian. Kanvas adalah satu-satunya sahabatku, kuas adalah pedangku melawan dunia. Malam itu, di tepi sungai yang diterangi cahaya bulan yang pucat, aku melihat lentera-lentera berlayar di atas air. Cahayanya menari, memantulkan RAHASIA yang tersembunyi di dasar sungai. Bayangan-bayangan di pepohonan seolah berbisik, menceritakan kisah yang terlupakan. Bulan, sang saksi bisu, tahu namaku. Atau setidaknya, nama yang kupikir adalah namaku.

Di dunia roh, aku disebut "Error." Sebuah anomali dalam jaringan takdir, sebuah glitch yang seharusnya tidak ada. Aku terbuang, terasing, dan dibenci oleh para Dewa. Kekuatanku, yang seharusnya tidak kumiliki, justru menarik perhatiannya. Kaisar Roh, Lan Zhan, penguasa dunia yang abadi, memandangku dengan mata dingin yang menusuk jiwa. Dia MEMBUTUHKANKU, meskipun dia membenciku.

Bab 2: Mimpi di Balik Tabir

Setiap malam, aku bermimpi tentang Lan Zhan. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu intens, hingga aku tidak tahu lagi mana yang mimpi dan mana yang kenyataan. Di mimpi itu, aku melihat dia bertarung melawan kegelapan abadi, menyelamatkan dunia roh dari kehancuran. Aku melihat kesedihannya, beban berat yang dipikulnya di pundaknya yang perkasa. Dan yang paling membingungkan, aku melihat CINTA di matanya, cinta yang ditujukan… kepadaku?

Di dunia manusia, hidupku dipenuhi dengan pertanyaan. Mengapa aku merasa begitu dekat dengan dunia roh? Mengapa lukisanku dipenuhi dengan simbol-simbol aneh yang tidak kumengerti? Dan yang terpenting, mengapa kematianku di dunia lama – sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawaku – terasa seperti awal dari sesuatu yang JAUH lebih besar?

Bab 3: Bayangan Yang Bicara

Suatu malam, saat aku melukis lentera yang menyala di air, bayanganku mulai berbicara. Ia mengungkapkan sebuah rahasia yang mengguncang fondasi keberadaanku. Kematianku di dunia lama bukanlah kecelakaan. Itu adalah bagian dari rencana yang dirancang oleh para Dewa untuk mengikatku dengan Lan Zhan. Aku adalah kunci, Error yang akan membantunya memenangkan perang abadi melawan kegelapan.

Namun, ada sesuatu yang disembunyikan. Bayanganku memperingatkanku tentang manipulasi, tentang kebohongan yang terjalin dalam takdirku. Lan Zhan membutuhkan kekuatanku, tetapi apakah dia benar-benar mencintaiku? Atau apakah aku hanyalah pion dalam permainannya yang rumit?

Bab 4: Air Mata Kaisar

Di dunia roh, Lan Zhan akhirnya mengungkapkan perasaannya. Dia mengaku mencintaiku, meskipun dia tahu bahwa aku adalah Error, anomali yang mengancam stabilitas dunia. Dia mengatakan bahwa cintanya adalah kutukan, tetapi dia tidak bisa menghentikannya. Air matanya, setetes embun di atas bunga es, membuktikan kesungguhannya.

Namun, bayanganku telah menanamkan keraguan di hatiku. Aku melihat kebohongan dalam tindakannya, manipulasi dalam kata-katanya. Aku tahu bahwa ada kekuatan lain yang bermain, kekuatan yang lebih besar dari Lan Zhan dan diriku.

Bab 5: Kebenaran di Balik Topeng

Kebenaran akhirnya terungkap. Bukan Lan Zhan yang mencintaiku, tetapi seorang Dewa Kuno yang haus akan kekuasaan. Dia telah menciptakan diriku sebagai Error, menjebakku dalam takdir ini, dan memanipulasi Lan Zhan untuk mencintaiku. Dia menginginkan kekuatanku, yang akan dia gunakan untuk menaklukkan kedua dunia.

Lan Zhan, yang selama ini aku curigai, ternyata adalah korbannya juga. Dia telah berjuang melawan pengaruh Dewa Kuno, mencoba melindungiku, meskipun dia tahu bahwa aku adalah ancaman. DIA adalah yang mencintai dengan tulus, yang berkorban demi kebahagiaanku.

Bab 6: Keputusan Terakhir

Aku harus membuat pilihan. Apakah aku akan menyerahkan diriku kepada Dewa Kuno dan membiarkannya menghancurkan kedua dunia? Atau aku akan menggunakan kekuatanku untuk melawannya, meskipun itu berarti mengorbankan diriku sendiri?

Aku memilih Lan Zhan. Aku memilih cinta. Aku memilih kebebasan.

Aku melepaskan kekuatanku, membebaskan Lan Zhan dari pengaruh Dewa Kuno, dan menghancurkan rencananya yang jahat. Aku menghilang, kembali menjadi debu bintang yang darinya aku berasal.

Lan Zhan menangis. Air matanya adalah sungai yang mengalir di antara dua dunia, menghubungkan masa lalu dan masa depan.

Dan akhirnya, aku mengerti… bahwa cinta sejati adalah pengorbanan.

Bab Terakhir: Mantra yang Menggantung

"Meskipun aku lenyap, gema cintaku akan abadi, beresonansi di antara bintang-bintang, menunggu pertemuan abadi yang lain… mungkin di kehidupan selanjutnya, atau mungkin di balik mimpi."

You Might Also Like: Transcriptional Landscape Associated

Mahkota yang Disembunyikan di Balik Luka Angin mendesis lirih di antara reruntuhan istana, seolah membisikkan kenangan pahit pada Mei Lan....

Dracin Seru: Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka Dracin Seru: Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka

Mahkota yang Disembunyikan di Balik Luka

Angin mendesis lirih di antara reruntuhan istana, seolah membisikkan kenangan pahit pada Mei Lan. Dulu, di sinilah ia bertahta sebagai permaisuri yang dipuja, dikelilingi sutra dan intan. Dulu, di sini pula hatinya dipatahkan berkeping-keping oleh Pangeran Zhan, lelaki yang ia cintai sepenuh jiwa.

Cinta yang dijanjikan abadi, ternyata hanyalah tangga menuju kekuasaan. Pangeran Zhan, dengan senyum memikatnya, menikahi Mei Lan hanya demi merebut takhta. Ia menggunakan kelembutan Mei Lan sebagai senjata, dan kehancurannya sebagai kemenangan.

Mei Lan, yang dulunya dikenal karena keanggunan dan keramahannya, kini bagaikan bunga teratai yang tumbuh di medan perang. Di balik kelopak lembutnya, tersembunyi akar yang kuat, mampu menembus kerasnya tanah. Luka-luka masa lalu telah menempa dirinya menjadi sosok yang jauh lebih tangguh, lebih bijaksana. Kelembutan kini adalah topeng. Kekuatan adalah senjatanya.

Bertahun-tahun berlalu. Mei Lan, yang dianggap telah meninggal dalam pemberontakan, kembali dengan identitas baru: Nyonya Bai, seorang penasehat kerajaan yang disegani karena kecerdasannya yang tajam dan ketenangannya yang menusuk. Tidak ada yang mengenali permaisuri yang dikhianati di balik aura dingin Nyonya Bai.

Ia menyusun rencananya dengan sabar, langkah demi langkah. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah. Hanya perhitungan dingin dan ketepatan yang mematikan. Ia menggunakan kelemahan Pangeran Zhan – keserakahan dan ketakutannya – sebagai tali yang menjeratnya.

Setiap pujian yang ia berikan adalah racun manis. Setiap saran yang ia ajukan adalah jebakan tersembunyi. Pangeran Zhan, yang kini menjadi kaisar yang sombong, tidak menyadari bahwa dirinya sedang menari mengikuti irama yang dipimpin oleh mantan istrinya.

Puncak dari balas dendamnya tiba pada hari perayaan kemenangan. Di hadapan seluruh kerajaan, Nyonya Bai membongkar kejahatan Pangeran Zhan, mengungkap pengkhianatannya, dan menunjukkan kebenaran yang telah lama disembunyikan. Kaisar Zhan, yang kehilangan segalanya, hanya bisa terdiam, menatap Nyonya Bai dengan tatapan kosong.

Tidak ada senyum kemenangan di wajah Mei Lan. Hanya keheningan yang dingin dan mematikan. Ia tidak membalas cinta dengan kebencian, melainkan dengan KETIDAKPEDULIAN yang lebih menyakitkan.

Mei Lan melangkah pergi, meninggalkan istana yang penuh dengan intrik dan pengkhianatan. Ia telah membalas dendamnya, bukan dengan amarah yang membara, melainkan dengan ketenangan yang menusuk jantung. Ia telah membuktikan bahwa bahkan dari kehancuran yang paling dalam, kehidupan bisa tumbuh, lebih kuat, lebih indah.

Dan saat mentari pagi menyinari wajahnya, Mei Lan tersenyum tipis, karena kini ia tahu, bahwa takhta sejati bukanlah yang direbut, melainkan... YANG DILAHIRKAN DARI DALAM DIRI SENDIRI!

You Might Also Like: Unveiling December 2024S Essential

Senandung Guqin di Malam Kelabu Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Aku berdiri di dermaga, menatap kapal-kapal yang berlayar menjauhi kot...

Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku

Senandung Guqin di Malam Kelabu

Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Aku berdiri di dermaga, menatap kapal-kapal yang berlayar menjauhi kota. Dulu, kota ini adalah panggung impianku. Sekarang, hanya kenangan pahit yang tersisa.

Lima tahun lalu, aku, Lin Mei, adalah bintang yang bersinar terang di dunia mode. Model papan atas, dikelilingi kemewahan dan pujian. Tapi semua itu palsu. Di balik gemerlapnya lampu sorot, ada pengkhianatan yang menggerogoti hatiku.

Zhang Wei, kekasihku, sekaligus manajerku. Dialah yang mengukir namaku, menempatkanku di puncak. Tapi dia juga yang menjatuhkanku. Dengan dingin, dia merebut semua milikku – kontrak, reputasi, bahkan sahabatku, Xia Li.

Aku tahu, mereka bersekongkol. Aku tahu, ada rencana besar di balik senyum manis Xia Li dan tatapan memuja Zhang Wei. Tapi aku memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena aku menyimpan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan mereka berdua.

Aku tahu apa yang mereka lakukan pada AYAHKU.

Rahasia itu terukir dalam sebuah buku tua, warisan dari mendiang kakekku – seorang tabib terkenal di pedesaan. Buku itu berisi ramuan kuno, obat-obatan terlarang, dan yang terpenting: daftar nama. Nama-nama orang yang berhutang nyawa pada kakekku. Nama Zhang Wei dan ayah Xia Li ada di sana. Mereka berhutang BUDI pada kakekku.

Aku bisa saja membeberkan semuanya. Membuat mereka hancur seketika. Tapi aku tidak mau mengotori tanganku. Aku percaya, takdir punya cara sendiri untuk membalas dendam.

Lalu, kamu datang, Li Wei.

Seorang fotografer biasa, dengan senyum yang mampu menembus kabut hatiku. Kamu melihat luka yang kubuat, kamu menyembuhkannya dengan sabar. Kamu tidak tahu apa-apa tentang masa laluku, tentang pengkhianatan itu. Kamu hanya melihatku.

Senyummu, Li Wei, menjadi kompas di tengah badai hidupku.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar tentang Zhang Wei dan Xia Li. Karier mereka meredup. Proyek demi proyek gagal. Mereka terlilit hutang, kehilangan segalanya. Konon, investasi mereka di luar negeri lenyap begitu saja. Anehnya, nama-nama investor itu sama persis dengan nama-nama di daftar kakekku.

Takdir, memang penuh ironi.

Suatu malam, di bawah rembulan pucat, Li Wei bertanya padaku, "Mei, kenapa kamu selalu menatap langit malam?"

Aku tersenyum, menatap matanya yang teduh. "Dulu, aku mencari bintang. Sekarang… aku hanya mencari dirimu."

Aku tidak mengatakan apa pun tentang buku tua itu, tentang daftar nama, tentang bagaimana aku diam-diam menggerakkan bidak catur takdir. Aku tidak perlu melakukan apa-apa.

Zhang Wei dan Xia Li tidak pernah tahu, bahwa kejatuhan mereka bukan hanya kesialan belaka. Mereka tidak tahu, bahwa setiap ramuan memiliki efek samping, setiap budi memiliki harga yang harus dibayar.

Saat mentari pagi mulai menyingsing, aku merasakan hembusan angin dingin menusuk tulang. Li Wei memelukku erat.

Aku berbisik, "Kau tahu, sayang... mungkin kebahagiaan kita dibangun di atas puing-puing kesedihan orang lain..."

Tapi Li Wei tidak mendengarku. Ia terlalu sibuk mencium rambutku. Dan aku, aku hanya bisa memejamkan mata, menyerap kehangatan cintanya, sambil bertanya-tanya… akankah karma ini mengejarku di kehidupan selanjutnya?

You Might Also Like: Dracin Seru Aku Menjadi Notifikasi Hati