Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis Bab 1: Lentera di Air Mata Bulan Di dunia manusia, aku hanyalah Lin Yi, seorang pelukis yang hi...

Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

Aku Adalah Error Yang Membuatnya Menangis

Bab 1: Lentera di Air Mata Bulan

Di dunia manusia, aku hanyalah Lin Yi, seorang pelukis yang hidup dalam kesunyian. Kanvas adalah satu-satunya sahabatku, kuas adalah pedangku melawan dunia. Malam itu, di tepi sungai yang diterangi cahaya bulan yang pucat, aku melihat lentera-lentera berlayar di atas air. Cahayanya menari, memantulkan RAHASIA yang tersembunyi di dasar sungai. Bayangan-bayangan di pepohonan seolah berbisik, menceritakan kisah yang terlupakan. Bulan, sang saksi bisu, tahu namaku. Atau setidaknya, nama yang kupikir adalah namaku.

Di dunia roh, aku disebut "Error." Sebuah anomali dalam jaringan takdir, sebuah glitch yang seharusnya tidak ada. Aku terbuang, terasing, dan dibenci oleh para Dewa. Kekuatanku, yang seharusnya tidak kumiliki, justru menarik perhatiannya. Kaisar Roh, Lan Zhan, penguasa dunia yang abadi, memandangku dengan mata dingin yang menusuk jiwa. Dia MEMBUTUHKANKU, meskipun dia membenciku.

Bab 2: Mimpi di Balik Tabir

Setiap malam, aku bermimpi tentang Lan Zhan. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu intens, hingga aku tidak tahu lagi mana yang mimpi dan mana yang kenyataan. Di mimpi itu, aku melihat dia bertarung melawan kegelapan abadi, menyelamatkan dunia roh dari kehancuran. Aku melihat kesedihannya, beban berat yang dipikulnya di pundaknya yang perkasa. Dan yang paling membingungkan, aku melihat CINTA di matanya, cinta yang ditujukan… kepadaku?

Di dunia manusia, hidupku dipenuhi dengan pertanyaan. Mengapa aku merasa begitu dekat dengan dunia roh? Mengapa lukisanku dipenuhi dengan simbol-simbol aneh yang tidak kumengerti? Dan yang terpenting, mengapa kematianku di dunia lama – sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawaku – terasa seperti awal dari sesuatu yang JAUH lebih besar?

Bab 3: Bayangan Yang Bicara

Suatu malam, saat aku melukis lentera yang menyala di air, bayanganku mulai berbicara. Ia mengungkapkan sebuah rahasia yang mengguncang fondasi keberadaanku. Kematianku di dunia lama bukanlah kecelakaan. Itu adalah bagian dari rencana yang dirancang oleh para Dewa untuk mengikatku dengan Lan Zhan. Aku adalah kunci, Error yang akan membantunya memenangkan perang abadi melawan kegelapan.

Namun, ada sesuatu yang disembunyikan. Bayanganku memperingatkanku tentang manipulasi, tentang kebohongan yang terjalin dalam takdirku. Lan Zhan membutuhkan kekuatanku, tetapi apakah dia benar-benar mencintaiku? Atau apakah aku hanyalah pion dalam permainannya yang rumit?

Bab 4: Air Mata Kaisar

Di dunia roh, Lan Zhan akhirnya mengungkapkan perasaannya. Dia mengaku mencintaiku, meskipun dia tahu bahwa aku adalah Error, anomali yang mengancam stabilitas dunia. Dia mengatakan bahwa cintanya adalah kutukan, tetapi dia tidak bisa menghentikannya. Air matanya, setetes embun di atas bunga es, membuktikan kesungguhannya.

Namun, bayanganku telah menanamkan keraguan di hatiku. Aku melihat kebohongan dalam tindakannya, manipulasi dalam kata-katanya. Aku tahu bahwa ada kekuatan lain yang bermain, kekuatan yang lebih besar dari Lan Zhan dan diriku.

Bab 5: Kebenaran di Balik Topeng

Kebenaran akhirnya terungkap. Bukan Lan Zhan yang mencintaiku, tetapi seorang Dewa Kuno yang haus akan kekuasaan. Dia telah menciptakan diriku sebagai Error, menjebakku dalam takdir ini, dan memanipulasi Lan Zhan untuk mencintaiku. Dia menginginkan kekuatanku, yang akan dia gunakan untuk menaklukkan kedua dunia.

Lan Zhan, yang selama ini aku curigai, ternyata adalah korbannya juga. Dia telah berjuang melawan pengaruh Dewa Kuno, mencoba melindungiku, meskipun dia tahu bahwa aku adalah ancaman. DIA adalah yang mencintai dengan tulus, yang berkorban demi kebahagiaanku.

Bab 6: Keputusan Terakhir

Aku harus membuat pilihan. Apakah aku akan menyerahkan diriku kepada Dewa Kuno dan membiarkannya menghancurkan kedua dunia? Atau aku akan menggunakan kekuatanku untuk melawannya, meskipun itu berarti mengorbankan diriku sendiri?

Aku memilih Lan Zhan. Aku memilih cinta. Aku memilih kebebasan.

Aku melepaskan kekuatanku, membebaskan Lan Zhan dari pengaruh Dewa Kuno, dan menghancurkan rencananya yang jahat. Aku menghilang, kembali menjadi debu bintang yang darinya aku berasal.

Lan Zhan menangis. Air matanya adalah sungai yang mengalir di antara dua dunia, menghubungkan masa lalu dan masa depan.

Dan akhirnya, aku mengerti… bahwa cinta sejati adalah pengorbanan.

Bab Terakhir: Mantra yang Menggantung

"Meskipun aku lenyap, gema cintaku akan abadi, beresonansi di antara bintang-bintang, menunggu pertemuan abadi yang lain… mungkin di kehidupan selanjutnya, atau mungkin di balik mimpi."

You Might Also Like: Transcriptional Landscape Associated

Mahkota yang Disembunyikan di Balik Luka Angin mendesis lirih di antara reruntuhan istana, seolah membisikkan kenangan pahit pada Mei Lan....

Dracin Seru: Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka Dracin Seru: Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka

Mahkota yang Disembunyikan di Balik Luka

Angin mendesis lirih di antara reruntuhan istana, seolah membisikkan kenangan pahit pada Mei Lan. Dulu, di sinilah ia bertahta sebagai permaisuri yang dipuja, dikelilingi sutra dan intan. Dulu, di sini pula hatinya dipatahkan berkeping-keping oleh Pangeran Zhan, lelaki yang ia cintai sepenuh jiwa.

Cinta yang dijanjikan abadi, ternyata hanyalah tangga menuju kekuasaan. Pangeran Zhan, dengan senyum memikatnya, menikahi Mei Lan hanya demi merebut takhta. Ia menggunakan kelembutan Mei Lan sebagai senjata, dan kehancurannya sebagai kemenangan.

Mei Lan, yang dulunya dikenal karena keanggunan dan keramahannya, kini bagaikan bunga teratai yang tumbuh di medan perang. Di balik kelopak lembutnya, tersembunyi akar yang kuat, mampu menembus kerasnya tanah. Luka-luka masa lalu telah menempa dirinya menjadi sosok yang jauh lebih tangguh, lebih bijaksana. Kelembutan kini adalah topeng. Kekuatan adalah senjatanya.

Bertahun-tahun berlalu. Mei Lan, yang dianggap telah meninggal dalam pemberontakan, kembali dengan identitas baru: Nyonya Bai, seorang penasehat kerajaan yang disegani karena kecerdasannya yang tajam dan ketenangannya yang menusuk. Tidak ada yang mengenali permaisuri yang dikhianati di balik aura dingin Nyonya Bai.

Ia menyusun rencananya dengan sabar, langkah demi langkah. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah. Hanya perhitungan dingin dan ketepatan yang mematikan. Ia menggunakan kelemahan Pangeran Zhan – keserakahan dan ketakutannya – sebagai tali yang menjeratnya.

Setiap pujian yang ia berikan adalah racun manis. Setiap saran yang ia ajukan adalah jebakan tersembunyi. Pangeran Zhan, yang kini menjadi kaisar yang sombong, tidak menyadari bahwa dirinya sedang menari mengikuti irama yang dipimpin oleh mantan istrinya.

Puncak dari balas dendamnya tiba pada hari perayaan kemenangan. Di hadapan seluruh kerajaan, Nyonya Bai membongkar kejahatan Pangeran Zhan, mengungkap pengkhianatannya, dan menunjukkan kebenaran yang telah lama disembunyikan. Kaisar Zhan, yang kehilangan segalanya, hanya bisa terdiam, menatap Nyonya Bai dengan tatapan kosong.

Tidak ada senyum kemenangan di wajah Mei Lan. Hanya keheningan yang dingin dan mematikan. Ia tidak membalas cinta dengan kebencian, melainkan dengan KETIDAKPEDULIAN yang lebih menyakitkan.

Mei Lan melangkah pergi, meninggalkan istana yang penuh dengan intrik dan pengkhianatan. Ia telah membalas dendamnya, bukan dengan amarah yang membara, melainkan dengan ketenangan yang menusuk jantung. Ia telah membuktikan bahwa bahkan dari kehancuran yang paling dalam, kehidupan bisa tumbuh, lebih kuat, lebih indah.

Dan saat mentari pagi menyinari wajahnya, Mei Lan tersenyum tipis, karena kini ia tahu, bahwa takhta sejati bukanlah yang direbut, melainkan... YANG DILAHIRKAN DARI DALAM DIRI SENDIRI!

You Might Also Like: Unveiling December 2024S Essential

Senandung Guqin di Malam Kelabu Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Aku berdiri di dermaga, menatap kapal-kapal yang berlayar menjauhi kot...

Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku Dracin Populer: Aku Kehilangan Arah, Tapi Senyummu Jadi Kompas Hidupku

Senandung Guqin di Malam Kelabu

Hujan abu-abu menyelimuti Shanghai. Aku berdiri di dermaga, menatap kapal-kapal yang berlayar menjauhi kota. Dulu, kota ini adalah panggung impianku. Sekarang, hanya kenangan pahit yang tersisa.

Lima tahun lalu, aku, Lin Mei, adalah bintang yang bersinar terang di dunia mode. Model papan atas, dikelilingi kemewahan dan pujian. Tapi semua itu palsu. Di balik gemerlapnya lampu sorot, ada pengkhianatan yang menggerogoti hatiku.

Zhang Wei, kekasihku, sekaligus manajerku. Dialah yang mengukir namaku, menempatkanku di puncak. Tapi dia juga yang menjatuhkanku. Dengan dingin, dia merebut semua milikku – kontrak, reputasi, bahkan sahabatku, Xia Li.

Aku tahu, mereka bersekongkol. Aku tahu, ada rencana besar di balik senyum manis Xia Li dan tatapan memuja Zhang Wei. Tapi aku memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena aku menyimpan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan mereka berdua.

Aku tahu apa yang mereka lakukan pada AYAHKU.

Rahasia itu terukir dalam sebuah buku tua, warisan dari mendiang kakekku – seorang tabib terkenal di pedesaan. Buku itu berisi ramuan kuno, obat-obatan terlarang, dan yang terpenting: daftar nama. Nama-nama orang yang berhutang nyawa pada kakekku. Nama Zhang Wei dan ayah Xia Li ada di sana. Mereka berhutang BUDI pada kakekku.

Aku bisa saja membeberkan semuanya. Membuat mereka hancur seketika. Tapi aku tidak mau mengotori tanganku. Aku percaya, takdir punya cara sendiri untuk membalas dendam.

Lalu, kamu datang, Li Wei.

Seorang fotografer biasa, dengan senyum yang mampu menembus kabut hatiku. Kamu melihat luka yang kubuat, kamu menyembuhkannya dengan sabar. Kamu tidak tahu apa-apa tentang masa laluku, tentang pengkhianatan itu. Kamu hanya melihatku.

Senyummu, Li Wei, menjadi kompas di tengah badai hidupku.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar tentang Zhang Wei dan Xia Li. Karier mereka meredup. Proyek demi proyek gagal. Mereka terlilit hutang, kehilangan segalanya. Konon, investasi mereka di luar negeri lenyap begitu saja. Anehnya, nama-nama investor itu sama persis dengan nama-nama di daftar kakekku.

Takdir, memang penuh ironi.

Suatu malam, di bawah rembulan pucat, Li Wei bertanya padaku, "Mei, kenapa kamu selalu menatap langit malam?"

Aku tersenyum, menatap matanya yang teduh. "Dulu, aku mencari bintang. Sekarang… aku hanya mencari dirimu."

Aku tidak mengatakan apa pun tentang buku tua itu, tentang daftar nama, tentang bagaimana aku diam-diam menggerakkan bidak catur takdir. Aku tidak perlu melakukan apa-apa.

Zhang Wei dan Xia Li tidak pernah tahu, bahwa kejatuhan mereka bukan hanya kesialan belaka. Mereka tidak tahu, bahwa setiap ramuan memiliki efek samping, setiap budi memiliki harga yang harus dibayar.

Saat mentari pagi mulai menyingsing, aku merasakan hembusan angin dingin menusuk tulang. Li Wei memelukku erat.

Aku berbisik, "Kau tahu, sayang... mungkin kebahagiaan kita dibangun di atas puing-puing kesedihan orang lain..."

Tapi Li Wei tidak mendengarku. Ia terlalu sibuk mencium rambutku. Dan aku, aku hanya bisa memejamkan mata, menyerap kehangatan cintanya, sambil bertanya-tanya… akankah karma ini mengejarku di kehidupan selanjutnya?

You Might Also Like: Dracin Seru Aku Menjadi Notifikasi Hati

Kaisar Itu Menutup Mata, dan Dunia Pun Ikut Redup Istana megah berbalut sutra dan emas, namun malam ini, dinginnya menembus tulang. Kaisar...

Seru Sih Ini! Kaisar Itu Menutup Mata, Dan Dunia Pun Ikut Redup Seru Sih Ini! Kaisar Itu Menutup Mata, Dan Dunia Pun Ikut Redup

Kaisar Itu Menutup Mata, dan Dunia Pun Ikut Redup

Istana megah berbalut sutra dan emas, namun malam ini, dinginnya menembus tulang. Kaisar Agung, Yang Mulia Li Wei, terbaring lemah di ranjangnya. Senyum tipis menghiasi bibirnya, sebuah senyum yang menipu dunia tentang badai yang berkecamuk di hatinya.

Di sampingnya, berdiri permaisuri, Selir Zhao, anggun dalam gaun phoenix-nya. Matanya berkilat seperti batu giok yang baru diasah, menyimpan rahasia kelam di baliknya. Tangannya menggenggam tangan Kaisar, sebuah pelukan yang terasa beracun di kulit Li Wei.

Dahulu kala, pelukan Selir Zhao adalah kehangatan yang menenangkan jiwanya, tempat ia berlindung dari intrik istana. Dulu, suara lembutnya adalah melodi yang menenangkan, dan janjinya adalah benteng yang tak mungkin runtuh. Namun kini, semua itu hanyalah bayangan masa lalu, janji yang berubah menjadi belati yang ditikamkan tepat ke jantungnya.

"Wei... ku mohon bertahanlah," bisik Selir Zhao, air mata buatan mengalir di pipinya. Li Wei memandangnya dengan tatapan tenang, namun dalam. Tak ada amarah, tak ada teriakan. Hanya kelelahan. Ia tahu. Ia sudah lama tahu. Kebenaran pahit tentang pengkhianatan yang merajalela di istana ini.

Li Wei ingat malam itu, di bawah rembulan yang sama, ia bersumpah untuk mencintai Selir Zhao selamanya. Ia memberikan seluruh hatinya, kekuatannya, dan kerajaannya. Namun, ia lupa satu hal: cinta di istana seringkali hanyalah alat untuk meraih kekuasaan.

"Zhao..." suara Li Wei nyaris tak terdengar. "Aku... aku memberikan segalanya padamu."

Selir Zhao menunduk, menyembunyikan senyum kemenangannya. "Aku... aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Yang Mulia."

Li Wei menutup matanya. Redup. Istana terasa membeku. Dunia kehilangan warnanya.

Berita kematian Kaisar menyebar seperti api. Selir Zhao, dengan air mata yang dipaksakan, naik tahta menjadi Ibu Suri yang berkuasa. Kekuatan kini sepenuhnya berada di tangannya.

Namun, tak lama kemudian, sebuah dekrit keluar dari ruang kerja Kaisar yang baru dilantik, Kaisar muda yang merupakan putra mahkota dari selir lain yang setia kepada Li Wei. Dekrit itu mengumumkan penemuan surat-surat pengkhianatan Selir Zhao, yang membuktikan bahwa ia telah bersekongkol dengan musuh untuk menjatuhkan kerajaan.

Selir Zhao tidak dihukum mati. Tidak ada darah yang tumpah. Hukuman baginya jauh lebih menyakitkan. Ia diasingkan ke kuil terpencil di pegunungan, hidup dalam kesunyian dan penyesalan abadi, menyaksikan dari kejauhan kejayaan kerajaan yang seharusnya menjadi miliknya. Ia hidup, tetapi jiwanya mati.

Di makam Kaisar Agung Li Wei, seorang pelayan meletakkan setangkai bunga plum putih, bunga kesukaan Kaisar. Ia membisikkan sebuah kalimat yang tak akan pernah didengar oleh siapapun:

"Yang Mulia, balas dendam Anda terasa manis... sekaligus pahit."

Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.

You Might Also Like: Jual Skincare Non Komedogenik Untuk

Aku Mencintaimu dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi yang Bisa Memahami Hujan gerimis membasahi Kota Terlarang, senada dengan air mata yang tak...

Drama Abiss! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami Drama Abiss! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami

Aku Mencintaimu dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi yang Bisa Memahami

Hujan gerimis membasahi Kota Terlarang, senada dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir di hatiku. Mei Hua dan aku, tumbuh bersama di balik tembok istana yang megah namun dingin. Saudara? Teman? Lebih dari itu. Kami adalah dua sisi mata uang, terikat takdir dan... rahasia.

"Anggrek," bisiknya suatu senja, menyebut nama panggilanku dengan suara selembut sutra. "Bulan ini purnama. Indah, bukan?"

Aku hanya tersenyum, menatap matanya yang sekelam malam. Indah? Bukankah justru saat bulan purnama, semua bayangan menjadi lebih panjang, lebih menakutkan? "Kau menyukainya, Mei Hua?"

"Lebih dari yang kau tahu," jawabnya, senyumnya tipis, seperti garis luka yang belum sembuh.

Kami dilatih bersama, diasah menjadi pedang kembar. Dia, dengan anggunnya yang mematikan; aku, dengan ketenangan yang menipu. Kami adalah andalan Kaisar, senjata rahasia Dinasti. Tapi di balik latihan pedang dan senyum palsu, tumbuh benih terlarang. Aku mencintainya. Dalam sunyi. Karena hanya sunyi yang bisa memahami betapa gilanya perasaan ini.

Namun, kebahagiaan itu rapuh. Kabar pengkhianatan mencuat, mengoyak istana menjadi kepingan-kepingan prasangka. Seseorang membocorkan rencana Kaisar kepada pemberontak. Seseorang yang sangat dekat.

"Siapa?" tanyaku padanya, suatu malam di bawah rembulan yang sama. Suaraku bergetar, menahan badai di dalam dada.

"Kau ingin tahu?" Mei Hua tertawa, suara yang membuat darahku membeku. "Sungguh?"

Hari-hari berikutnya adalah labirin intrik dan kebohongan. Aku menyelidiki, mencari jejak, mencoba menyingkap kebenaran. Semakin dalam aku menggali, semakin jelas bayangan Mei Hua di balik setiap jejak. Apakah mungkin? Gadis yang kucintai, gadis yang selalu ada di sisiku, adalah pengkhianat?

Kebenaran terungkap di malam pertumpahan darah. Pemberontak menyerbu istana. Kaisar terdesak. Aku, dengan pedang di tangan, melindungi tahtanya. Lalu, aku melihatnya. Mei Hua, berdiri di belakang pemimpin pemberontak, senyum kemenangan terukir di wajahnya.

"Mengapa?" tanyaku, suaraku parau, nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk pertempuran.

"Kau terlalu naif, Anggrek," jawabnya, matanya dingin, tanpa sedikit pun penyesalan. "Aku bukan hanya ingin melindungimu, tapi... aku menginginkan semuanya. Tahta ini, kekuasaan ini... bahkan cintamu."

Ternyata, selama ini aku hanyalah pion dalam permainannya. Dia menggunakan cintaku, kepercayaanku, untuk mencapai tujuannya. Dia membenci Kaisar yang telah membunuh keluarganya, dia membenci istana yang telah merenggut kebebasannya, dan dia... membenciku karena aku terlalu setia pada Kaisar.

Balas dendam menjadi satu-satunya jalan. Aku mengangkat pedangku, bukan lagi untuk melindungi Kaisar, tapi untuk menghukum pengkhianat. Pertarungan kami adalah tarian kematian, pedang beradu, cinta dan benci bercampur menjadi satu.

Di akhir pertarungan, kami berdua terluka parah. Mei Hua terbaring di tanah, napasnya tersengal. Aku berlutut di sampingnya, menatap matanya yang perlahan meredup.

"Kau tahu?" bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Aku... selalu mencintaimu... dengan cara yang salah."

Air mata menetes di pipiku. Balas dendamku terasa pahit. Kebenaran ini, terlalu menyakitkan.

Kutipan yang tertulis di dinding istana yang berlumuran darah itu berbunyi, "Cinta seorang raja adalah kutukan, dan cinta seorang pengkhianat adalah kematian."

"Mungkin... memang seharusnya begini," gumamku, sebelum kegelapan menelanku.

Aku mati dalam sunyi, karena hanya sunyi yang bisa memahami betapa dalamnya penyesalanku.

You Might Also Like: English Speaking Practice Did Spiros

Hujan berbisik di atas nisan abu-abu. Butir-butir air menari di atas ukiran nama Lin Wei, seolah mencoba menghapus debu kenangan yang terla...

Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Damai Endingnya Gini! Senyum Yang Mengantarku Ke Damai

Hujan berbisik di atas nisan abu-abu. Butir-butir air menari di atas ukiran nama Lin Wei, seolah mencoba menghapus debu kenangan yang terlanjur melekat. Sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung sendiri terasa seperti gema di gua yang kosong. Aku berdiri di sini, atau lebih tepatnya, MELAYANG di sini, di antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat.

Aku Lin Wei. Atau dulunya Lin Wei. Kini, aku hanyalah bayangan, aroma lavender yang tiba-tiba hadir, atau bisikan angin di sela pepohonan bambu. Aku mati tanpa sempat mengucapkan kebenaran. Kebenaran yang membebani dadaku seberat batu nisan ini.

Dunia ini aneh dari sudut pandangku. Orang-orang berjalan, tertawa, menangis, TANPA melihatku. Aku mencoba menyentuh mereka, tetapi tanganku hanya menembus, bagai kabut pagi yang hilang ditelan matahari. Mereka hidup, sementara aku terjebak di antara hidup dan mati, terikat oleh janji yang belum terpenuhi.

Aku kembali bukan untuk balas dendam, meski bayang-bayang kecurigaan masih menari-nari di benakku. Aku kembali bukan untuk menuntut keadilan, karena keadilan sejati hanya ada di sisi Yang Maha Kuasa. Aku kembali untuk mencari… KEDAMAIAN.

Setiap malam, aku mengikuti Xiao Zhen, tunanganku. Matanya yang dulu berbinar kini redup, dipenuhi kesedihan yang tak terucapkan. Aku ingin memeluknya, menghapus air matanya, tetapi aku hanyalah roh. Hantu masa lalu yang tak bisa dijamah.

Aku mengamati setiap gerakannya, setiap interaksinya dengan orang-orang di sekelilingnya. Ada Li Cheng, sahabatku, yang selalu ada di sisinya. Terlalu ada. Tatapannya, meskipun penuh simpati, terasa aneh. MENCURIGAKAN. Aku melihat percakapan mereka, mendengar bisikan-bisikan yang disembunyikan. Kepingan-kepingan puzzle mulai tersusun, membentuk gambaran yang mengerikan.

Semakin dekat aku dengan kebenaran, semakin berat rasanya. Aku melihat kebohongan yang terjalin rapi, pengkhianatan yang menikam dari belakang. Ternyata, kematianku bukanlah kecelakaan seperti yang diberitakan. Ada konspirasi, ada rencana jahat yang dirancang dengan cermat.

Namun, di tengah badai amarah dan kekecewaan, aku menemukan sesuatu yang lebih penting. Aku melihat ketulusan di mata Xiao Zhen. Aku melihat bagaimana ia berjuang untuk tetap tegar, meski hatinya hancur berkeping-keping. Aku melihat bagaimana ia tetap mencintaiku, meski aku telah tiada.

Malam itu, di bawah rembulan pucat, aku membawa Xiao Zhen ke tempat rahasia kami, di tepi sungai yang mengalir tenang. Di sana, di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang aku sembunyikan. Di dalamnya, ada surat dan kalung lavender kesukaannya.

Dalam surat itu, aku mengakui segala ketakutanku, segala keraguanku tentang masa depan. Aku juga mengungkapkan betapa besar cintaku padanya, cinta yang akan tetap abadi, meski maut memisahkan.

Saat Xiao Zhen membaca surat itu, air matanya mengalir deras. Aku bisa merasakan beban di hatinya perlahan terangkat. Aku melihat senyum tipis merekah di bibirnya, senyum yang selama ini kurindukan. Senyum yang menandakan… KEBEBASAN.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhku terasa ringan, bagai bulu yang diterbangkan angin. Pandanganku mengabur, seolah aku akan menghilang ditelan kegelapan. Akhirnya, aku mengerti. Mencari kebenaran bukan berarti mencari balas dendam. Mencari kebenaran berarti membebaskan jiwa yang terbelenggu. Membebaskan diri dari dendam dan amarah. Membebaskan Xiao Zhen dari kesedihan.

Aku tidak menemukan balas dendam, namun aku menemukan kedamaian. Kedamaian yang selama ini kurindukan.

Kemudian, aku melihat Xiao Zhen tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang mengantarku...

You Might Also Like: 200 Every Borderlands Game Ranked

Pelukan yang Menyimpan Kebenaran Aula Emas Istana Kekaisaran dipenuhi cahaya rembulan yang menerobos celah tirai sutra. Di sanalah, Kaisar...

Cerpen Terbaru: Pelukan Yang Menyimpan Kebenaran Cerpen Terbaru: Pelukan Yang Menyimpan Kebenaran

Pelukan yang Menyimpan Kebenaran

Aula Emas Istana Kekaisaran dipenuhi cahaya rembulan yang menerobos celah tirai sutra. Di sanalah, Kaisar Li Wei berdiri, gagah dalam jubah naga keemasannya. Namun, sorot matanya yang tajam mengkhianati kegelisahan di balik fasad kekuasaan. Di hadapannya, berdiri Permaisuri Mei Lian, anggun dan mempesona, bagaikan bunga teratai di tengah kolam yang tenang.

"Mei Lian," suara Li Wei berat, "Aku... aku telah mendengar desas-desus."

Mei Lian mengangkat kepalanya, tatapannya setenang danau di pagi hari. "Desas-desus? Desas-desus tentang apa, Yang Mulia?" Suaranya merdu, namun terdengar dingin.

Di balik tirai sutra, bisikan pengkhianatan terdengar sayup-sayup. Intrik dan perebutan kekuasaan adalah makanan sehari-hari di istana ini. Setiap senyum bisa menyembunyikan belati, setiap pelukan bisa menyembunyikan racun. Cinta dan kekuasaan—dua sisi mata uang yang sama, saling bertentangan, saling melengkapi.

Hubungan Li Wei dan Mei Lian adalah GAMBARAN sempurna dari pertentangan itu. Mereka saling mencintai, atau setidaknya, pernah saling mencintai. Tapi, di istana ini, cinta adalah permainan. Setiap janji adalah taruhan, setiap ciuman adalah strategi. Li Wei, sang Kaisar, membutuhkan keturunan untuk meneruskan tahta. Mei Lian, sang Permaisuri, membutuhkan kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.

Namun, Li Wei curiga. Desas-desus mengatakan bahwa Mei Lian bersekongkol dengan Pangeran Chen, adik laki-lakinya, untuk menggulingkannya. Pangeran Chen, ambisius dan haus kekuasaan, selalu membayangi tahta Li Wei.

"Aku mendengar," lanjut Li Wei, suaranya semakin berat, "bahwa kau… berhubungan dengan Chen."

Mei Lian tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Yang Mulia terlalu percaya pada desas-desus. Saya hanyalah seorang wanita yang mencintai suaminya, yang mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan Kerajaan."

Li Wei mendekat, meraih wajah Mei Lian dengan tangannya. Matanya menatap dalam-dalam mata sang Permaisuri, mencari kebenaran. "Jika itu benar, Mei Lian, maka kau harus membuktikannya."

Malam itu, Mei Lian mendatangi kamar Pangeran Chen. Di sana, di tengah bayangan lilin, mereka berbicara. Bukan tentang cinta, bukan tentang pengkhianatan, tetapi tentang KEADILAN.

"Sudah saatnya, Yang Mulia," kata Mei Lian, suaranya rendah namun tegas. "Ayahanda Kaisar membunuh seluruh keluargaku demi merebut tahta. Aku hanya berpura-pura mencintainya demi mendapatkan posisi ini."

Chen menatap Mei Lian dengan kagum. Ia tidak pernah menyangka wanita yang ia cintai ini menyimpan dendam sedalam itu.

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Chen.

Mei Lian tersenyum. Senyum yang sekarang, benar-benar mencapai matanya. Senyum yang dingin, mematikan.


Beberapa bulan kemudian, Li Wei ditemukan tewas di kamarnya. Racun yang sangat langka ditemukan dalam cawan anggurnya. Pangeran Chen, sebagai pewaris sah, dinobatkan menjadi Kaisar baru.

Pada upacara penobatan, Kaisar Chen mendekati Mei Lian, yang berdiri anggun di sampingnya. "Terima kasih, Mei Lian," bisiknya. "Tanpa bantuanmu, aku tidak akan pernah bisa mencapai ini."

Mei Lian menatap Chen dengan tatapan datar. "Kau salah, Yang Mulia," jawabnya. "Aku tidak pernah melakukan ini untukmu."

Chen mengerutkan kening. "Lalu, untuk siapa?"

Mei Lian mendekat ke telinga Chen, berbisik. "Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Untuk membalaskan dendam keluargaku. Dan sekarang, tahta ini milikku."

Mata Chen membelalak. Ia baru menyadari bahwa ia hanyalah pion dalam permainan Mei Lian. Ia telah dibutakan oleh cinta, oleh kekuasaan, dan ia telah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh wanita yang dianggapnya lemah.

Mei Lian mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para penjaga. Dalam sekejap, Chen dikelilingi oleh pedang.

"Eksekusi," perintah Mei Lian, suaranya KERAS dan TEGAS.

Chen menatap Mei Lian dengan tatapan tak percaya, sebelum akhirnya ambruk ke tanah.

Mei Lian berdiri tegak, di atas genangan darah Chen. Di sekelilingnya, para pejabat istana terdiam, menyaksikan kebangkitan seorang ratu yang BERBAHAYA.

Dengan dingin, Mei Lian mendeklarasikan, "Aku, Permaisuri Mei Lian, dengan ini menyatakan diriku sebagai Kaisar Kerajaan ini!"

Ia duduk di atas tahta naga, memandang ke arah kerumunan yang terpana. Di matanya, hanya ada KETERPUASAN dan KEKUATAN.

Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri… atau baru akan dimulai?

You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif